Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.
Apakah Musibah Selalu Karena Dosa-Dosa? (bagian 2)
Abdul hakim
Rabu, 08 April 2009
Kategori : Akidah dan Akhlaq
II. Perspektif Wahyu (Naql)
Wahyu, apakah itu yang tercantum dalam al-Quran atau disabdakan Nabi saw dalam al-Sunnah, tidak membicarakan 'mengapa ada musibah dalam kehidupan dunia'. Wahyu membicarakan 'apa tujuan musibah' dan 'respon apa yang Allah inginkan dari manusia'.
Di antara berbagai ayat dalam al-Quran yang membicarakan musibah kita ambil empat ayat saja yang representatif memperlihatkan peran Allah sebagai penentu musibah dan peran manusia sebagai penerima musibah. Tiga ayat berikut (point A, B dan C) memperlihatkan Allah sebagai sumber dan penentu terjadinya musibah. Ayat terakhir (point D) memperlihatkan bahwa musibah yang menimpa seseorang terjadinya tidak secara random (acak) tetapi mengikuti hukum sebab akibat. Sehingga, musibah apa pun yang terjadi memang ada dalam ketentuan Allah, akan tetapi menimpa siapa, jenis musibah apa, kapan dan di mana tergantung kepada orang tersebut sejauh mana ia memenuhi syarat perlu (necessary) dan syarat cukup (sufficient) sebagai orang yang pantas menerima musibah. Point D ini menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan apakah musibah selalu karena dosa-dosa.
A.Musibah telah di tuliskan Allah Ta'ala sebelum Allah menciptakan bumi, menciptakan manusia dan menjadikan berbagai musibah tersebut.
"Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri-diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. 57:22-23)
Dalam kitab Syifâu al-'Alîl fî masâil al-Qadhâ wa al-Qadar wa al-hikmah wa al-Ta'lîl, Imam Ibn al-Qayyim menguraikan lima tahap penetapan takdir berikut argumentasinya berdasarkan al-Quran dan al-Hadits.
1.Penentuan takdir sebelum penciptaan langit dan bumi
2.Penentuan sengsara, bahagia, rezeki,ajal dan amal manusia sebelum penciptaan mereka
3.Penentuan sengsara, bahagia, rezeki, ajal dan amal manusia dalam rahim ibunya
4.Penentuan takdir setahun di malam lailat al-Qadar
5.Penentuan takdir setiap hari
B.Musibah apa pun yang terjadi pasti atas izin Allah. Izin Allah artinya dalam ilmu Allah (al-'Ilm), berdasarkan kebijaksanaan Allah (al-Hikmah), dengan kehendak Allah (al-Irâdah) dan melalui kekuasaan Allah Ta'ala (al-Qudrah). Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menuntun hatinya sehingga hati itu menjadi bersabar, ridha bahkan bersyukur ketika menghadapi musibah apa pun. Bahkan ketika Allah menguakkan hikmah ada di balik musibah, maka hati memandang musibah itu sebenarnya adalah nikmat dengan bungkus musibah.
"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. 64:11)
C. Musibah pasti menimpa siapa pun, apakah itu berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kematian atau gagal panen. Yang Allah inginkan adalah kita dapat bersabar dan mengatakan," Innâ lillââwa innâ ilaihi râj'ûn (kami adalah milik Allah dan kami pasti kembali kepada-Nya). Mereka yang bersabar inilah yang mendapatkan shalawat, rahmat dan hidayah dari Allah.
"Dan pasti akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah apa pun, mereka mengucapkan:Innâ lillââwa innâ ilaihi râj'ûn (kami adalah milik Allah dan kami pasti kembali kepada-Nya).
Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2: 155- 157)
Tiga point di atas (A, B, dan C) memperlihatkan peran Allah Ta'ala sebagai penentu terjadinya musibah pada tiap mahluknya. Sedangkan point berikut ini (D) memperlihatkan bahwa terjadinya musibah mengikuti suatu sunnatullah tertentu, hukum sebab akibat, di mana mahluk-mahluk mempunyai peran terhadap terjadinya musibah yang menimpa diriya.
D. Terjadinya musibah mengikuti hukum sebab akibat, tidak terjadi secara acak. Dan manusia terlibat dalam rangkaian sebab akibat tersebut.
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah telah demikian banyak memaafkan. "(QS. 42:30)
Musibah apa pun yang menimpa kita sebenarnya ada peran kita dalam rangkaian sebab akibat datangnya musibah tersebut. Musibah tidak datang secara acak (random). Sehingga dapat kita katakan, musibah apa pun yang menimpa seseorang karena memang orang itu berhak untuk mendapatkannya atau memang pantas mendapatkannya. Hal ini karena orang itu memenuhi syarat-syarat perlu (necessary) dan cukup (sufficient) bagi terjadinya musibah tertentu menimpa dirinya, pada tempat dan waktu tertentu.
Kadang kala rangkaian sebab akibat itu mudah untuk dilihat hubungannya. Contoh, penggundulan hutan oleh manusia mengakibatkan datangnya musibah banjir. Asap pabrik, asap kendaraan bermotor menimbulkan pemanasan global. Perbuatan manusia sebagai penyebab terjadinya musibah yang menimpa mereka ditegaskan oleh al-Quran:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, yang akibatnya Allah membuat mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. 30:41)
Tetapi yang banyak terjadi justru hubungan sebab akibat yang sulit untuk dilihat. Penyebabnya adalah variabel yang terlibat terlalu banyak dan rantai sebab akibatnya terlalu panjang. Juga boleh jadi suatu akibat mempunyai sebab yang tidak tunggal.
Misalnya, kita tinggal di jakarta. Tiba-tiba kita terserang sakit demam berdarah. Sebenarnya penyebab musibah yang kita derita itu adalah gara-gara membuang kulit pisang di Bandung. Sulit bagi kita untuk bisa menerima bahwa salah satu penyebab sakit kita adalah karena kita membuang kulit pisang di Bandung. Keberatan ini beralasan, karena memang sulit untuk melihat hubungan langsung antara membuang kulit pisang di Bandung dengan sakit demam berdarah yang kita derita. Tetapi kalau saja semua rantai sebab akibat itu dapat kita lihat maka kita akan melihat hubungan itu.
Untuk melihat rantai panjang sebab akibat kita amati saja perjalan kulit pisang yang kita buang ketika sedang jalan-jalan di Bandung tadi. Satu kulit pisang yang kita buang sebenarnya telah memberi andil terjadinya penumpukan sampah di Bandung. Di antara tumpukan sampah itu ada sedikit genangan air yang kemudian menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Dua minggu kemudian kita pergi ke Bandung lagi dan jalan-jalan pagi, tanpa kita sadari seekor nyamuk demam berdarah menggigit kita. Padahal jarak tempat kita membuang sampah dua minggu lalu dengan lokasi penimbunan sampah sekitar 5 kilometer. Rupanya sampah kulit pisang kita itu dibawa oleh tukang sampah ke tempat penimbunan sampah. Sepuluh hari kemudian, ketika kita sedang di kantor kita di Jakarta terasa kepala kita pusing dan sakit di ulu hati. Hasil lab darah, teryata trombosit kita ada di bawah ambang batas normal. Kita kena demam berdarah gara-gara membuang sebuah kulit pisang di Bandung.
Yang lebih sulit lagi jika rantai itu selain demikian panjang juga sekaligus melibatkan hukum-hukum langit yang belum kita ketahui. Seperti pemberitaan Nabi saw bahwa jika orang-orang sudah tidak mau membayar zakat, maka kekeringan akan melanda mereka. Jika zina merajalela maka wabah penyakit akan menyebar. Apa hubungan antara tidak membayar zakat dengan air tidak turun dari langit? Apa hubungan perzinahan dengan datang wabah penyakit. Mata kita tidak melihat hubungan itu, tetapi mata kenabian bisa melihatnya. Nanti di akherat ketika Allah menyingkapkan penutup mata manusia sehingga pandangan mereka menjadi sangat tajam, manusia akan melihat seluruh rangkaian sebab akibat seluruh perbuatan mereka. Dan mereka akan melihat setiap dosa menimbulkan akibat berupa musibah di akherat. Dalam kondisi itu tidak ada seorang pun yang berkeberatan terhadap keputusan Allah.
Kaum Sufi secara sederhana menggambarkan hukum sebab akibat ini lewat cerita berikut:
Pencuri memasuki rumah seseorang di malam hari. Malang, ketika ia menginjak kusen jendela rumah tersebut kusen itu patah. Pencuri terjatuh, kakinya pun patah. Pencuri itu meminta keadilan ke hakim kota dan menuntut pemilik rumah yang telah membuat rumah dengan kusen yang mudah patah. Hakim memanggil pemilik rumah dan mengemukakan tuntutan pencuri tadi. Membela diri, pemilik rumah mengatakan," Bukan saya yang salah tuan hakim, tetapi tukang yang membuat kusen itulah yang sembrono sehingga kusennya mudah patah." Hakim memanggil pembuat kusen. Pembuat kusen membela diri dengan mengatakan," Bukan saya yang salah tetapi tukang semen. Dia telah lalai sehingga ada satu batu bata yang tidak terpasang. Kusen saya di atas bagian yang bolong tadi." Hakim memanggil tukang semen. "Hari itu, ketika sedang menyemen batu bata, saya melihat perempuan menggunakan baju merah. Karena melihat perempuan itu, satu batu bata tidak terpasang. Bukan salah saya, tetapi salah perempuan itu mengapa menggunakan baju merah." Perempuan itu dipanggil." Suamiku lah yang menyuruh aku menggunakan baju merah." Suaminya pun dipanggil. Ternyata, suaminya adalah pencuri yang kakinya patah.
Secara singkat kisah itu hendak mengatakan, pencuri itu kakinya patah sebabnya adalah karena menyuruh istrinya menggunakan baju merah.
(bersambung: Sebab Musibah Menimpa Seseorang)
Klik Button
'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.
Share To Facebook