Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.
"To Love or To Be Loved"
Regina Kuntjoro-Jakti
Rabu, 08 April 2009
Kategori : Petikan Hikmah
“TO LOVE OR TO BE LOVED”
Membaca judul di atas…..kalau kita diberikan pertanyaan seperti itu, kira-kira apa yah yang mau dijawab…??!!
“To love or to be loved
To give or to be given
Take and give”
Rasanya 3 kalimat pendek di atas menjadi bisa saling terkait kalau kita hubungkan satu sama lainnya. Kalau mau jujur juga ternyata banyak dari kita sih menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban “To be loved atau dicintai” dooong….mendingan dicintai ketimbang mencintai. Baik pria maupun wanita ingin lebih dicintai oleh pasangannya, daripada dia yang secara aktif “mencintai” pasangannya.
Kata kerja aktif “to love” atau “mencintai” di sini maksudku (idealnya) untuk diberikan dalam banyak aspek kehidupan kita yah! Jadi kita bukan sekedar “to love” terbatas pada pasangan (suami/istri). Kata kerja ini mungkin dapat meluas untuk kemampuan kita mencintai secara tulus anak-anak kita, orang tua dan mertua, saudara-saudara sekandung, saudara-saudara ipar, sahabat-sahabat, teman-teman, tetangga-tetangga…..dan banyak lagi pihak-pihak lainnya.
Namun seperti anggapan yang hidup dan melekat di dalam masyarakat kita atau lingkungan kita, apakah “mencintai” secara tulus dalam hati tersebut hanya ada atau milik ibu pada anak-anaknya, orang tua pada anak-anaknya? Tidak kepada pasangan kita? Tidak kepada sesama hamba Allah?
Kita bisa melihat beberapa referensi kata “cinta” yang dibahas dalam beberapa ayat Al Quran.
Al Baqarah ayat 165 :
“…..adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah…”
Maryam ayat 96 :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang”.
Sungguh Allah telah berjanji, bahwa bila kita mencintai Allah, maka pasti Allah akan membalas cinta kita. Letak cinta yang paling dalam adalah saat kita bisa benar-benar cinta pada Sang Khaliq. Allah punmemanggil kita sebagai “orang yang beriman” saat kita mencintaiNya, Allah pun berjanji akan memberikan kasih sayangNya pada orang yang beriman dan beramal shaleh….Subhanallah, nikmatnya menjadi orang yang dapat mencintai Allah, kita pun bisa menjadi orang yang beriman.
Cinta pada Allah, so pasti dapat diwujudkan dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Dirikan shalat 5 waktu, perbanyak melakukan shalat sunnah, menyisihkan harta untuk membayar zakat, memberikan infaq dan sedekah. Dengan kita memprioritaskan segala hal demi Allah…Allah sudah pasti akan memprioritaskan kita juga. Kita dekatkan diri kita padaNya, pasti Allah pun akan dekat dengan hambaNya. Kegiatan kita yang dilakukan niat untuk Allah semata, akan menjadi tabungan amal di akhirat nanti….
Mencintai Allah adalah paling hakiki. Dengan mencintai Allah, pasti seseorang akan mencintai sesama mahlukNya. Karena dalam “cinta”, ada sayang, indah, tenang, tenteram, nyaman. Tidak ada rasa benci, bete, kesal maupun amarah. Alangkah senang bila kita dicintai…apalagi dicintai Allah kan? Namun kita harus terlebih dahulu mencintaiNya, maka Allah pun akan mencintai kita.
Kenyataannya dalam keseharian kita, aku memang lebih senang dicintai daripada mencintai. Bila aku tafakuri lagi, bagaimana mungkin aku bisa dicintai bila aku tidak lebih dulu mencintai…? Pastinya semua orang pengennya ada bukti dulu doong! Berikan bukti bukan janji (jadi ingat jargon salah satu produk..hehe..). Bagaimana mungkin aku bisa banyak berharap diberi, kalau aku tidak lebih banyak memberi. Ingat salah satu dialog dalam film Laskar Pelangi, “Kita lebih baik menjadi pemberi dari pada pihak yang lebih banyak menerima”. Mau pilih “To Give” atau “To Be Given”..? Jadi kudu ada action dulu (maksudnya lakukan “To give” atau memberi daripada mendahulukan meminta) baru orang lain akan menyadari, ooh ternyata kamu sudah melakukan ini, berbuat itu, jadi pastinya tindakan kita terbukti. Tapi kalo aku sudah menuntut duluan, orang lain pun akan komentar, apa yang sudah kamu lakukan, kok kamu menuntut saja..?? Pliisss deh, kok banyak nuntut, tapi nol besar tindakannya, NATO alias Not Action Talk Only hihi….
Pastinya dalam “memberi atau mencintai” selalu harus dilakukan dengan adanya perasaan TULUS, IKHLAS dan TANPA PAMRIH. Jangan berpikir, di saat kita melakukan suatu kebaikan kepada pihak lain, langsung menuntut dibayar lunas saat itu juga, alias saat itu juga kita langsung dapat feed backnya dari pihak yang bersangkutan. Kecewa nantinya!! Masa berharap langsung dibalas tunai dengan tindakan juga. Yah, mendingan di saat kita melakukan suatu tindakan atau kebaikan pada pihak lain, lakukan niatnya karena Allah, mencari pahala dan ridho Allah semata. Yakinkan bahwa Allah-lah yang akan memberikan balasan kebaikan untuk kita. Kita pun akan lebih tenang dan nyaman memberi, mencintai, melakukan kebaikan, membantu (semua dalam keadaan atau posisi yang “aktif” bukan “pasif”).
Di saat kita memiliki rasa TULUS, IKHLAS dan TANPA PAMRIH dalam melakukan sesuatu, maka menurutku hilanglah konteks “TAKE & GIVE”…karena di saat itu kita lebih mendahulukan “GIVE” daripada “TAKE”, kita bisa “menuntut” tindakan “TAKE” itu kepada Allah saja….tidak perlu menuntut pada pihak yang kita telah berikan sesuatu itu. “Take & Give” lebih mencerminkan kondisi, ada uang ada barang atau di saat kita beri kamu sesuatu, maka kamu pun HARUS berikan aku sesuatu (saat itu juga), atau jadi posisi seimbang atau IMPAS!! Jadi tidak ada rasa TULUS, IKHLAS dan TANPA PAMRIH itu….cape deh kalo kita selalu berharap pihak lain pun mau melakukan tindakan yang sama untuk kita. Mendingan kita berharap dan minta langsung saja sama Allah, feed backnya atas sesuatu yang sudah kita lakukan pada seseorang. Jadi kita ringan aja membantu orang, karena kita yakin Allah akan membantu kita di saat kita perlu bantuan. Pastinya dengan cara dan jalan apapun yang dikehendaki Allah.
Berharap anak-anak kita akan mencintai kita?? So lakukan dulu action-nya…lebih dahulu mencintai anak-anak kita…berikan mereka limpahan kasih sayang dan waktu yang utama (prime time) bukan “sisa waktu” yang kita miliki. Dengan begitu, maka anak-anak kita pun akan melihat dan merasakan betapa orang tuanya menyayangi dan mencintai anak-anaknya, jadilah anak-anak kita anak-anak yang shaleh..mendoakan kita orang tuanya. Alhamdulillah….
Berharap pasangan akan mencintai kita?? So cintailah pasangan kita lebih dulu, tidak usah pake hitungan prosentase dalam mencintai atau memberi. Anggapan “rugi kita kalo lebih mencintai pasangan, lebih untung kalo kita dicintai pasangan” itu kudu dihilangkan kali yah….!! Aku pun sedang berusaha belajar untuk bisa dalam posisi itu. Ya Allah, bantulah aku untuk menjadi orang yang lebih baik. Aku lagi belajar dan ikhtiar menjadi seseorang yang lebih baik dan baik dan baik setiap harinya. Semoga Allah memudahkan niatku itu. Jadinya, tidak ada untung rugi dalam melakukan kebaikan, yakin pastinya bakal UNTUNG TERUS, karena YAKIN Allah SWT akan membalasnya dengan kebaikan!!
Mencintai pasangan kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya dengan tulus ikhlas, insya Allah maka Allah pun akan limpahkan kasih sayangnya pada kita (aaamiiin). Aku pernah dengar Pak Ustadz Dudi Muttaqien bilang, “Semua orang bisa menerima kelebihan istri saya, lebih gampang kan menerima kelebihan seseorang? Namun belum tentu semua orang bisa menerima kekurangan istri saya. Saya pun senang banget dengan semua kelebihan dalam diri istri saya, namun sebagai suaminya, saya pun akan senang banget menerima semua kekurangan istri saya tersebut. Wong udah jadi suaminya, siapa lagi yang bisa terima kekurangan istri saya kalo bukan saya! Itulah bedanya saya sebagai suami dibanding orang-orang lain dalam menyikapi kekurangan istri saya!”.
Subhanallah, bener banget yang disampaikan Pak Dudi tadi yah….orang lain, mungkin gampang aja terima kelebihan aku, tapi yang bisa terima kekurangan aku, tidak semua orang kan? Mana mau terima aku yang kadang super duper teliti (haha…) ini aku anggap salah satu kekuranganku, sampai suamiku komentar, “Sangking telitinya, kamu kok jadi lupa taruh di mana yah…”. Suamiku sudah dalam kondisi “menerima” aku begitulah adanya, just the I am gitu loh!! (baca : mahfum banget!! Kalau aku suka tiba-tiba lupa menaruh kunci, sangking telitinya aku menaruh hehe…). Hanya orang-orang terdekat mungkin, suamiku, ibuku, adikku, sahabat-sahabatku yang bisa terima aku dalam keadaan “1PAKET of Just the way I am” hehe…sudah mengerti dan mahfum dengan sifat dan karakter aku yang begitu. Terima kasih yah semuanya…:)
Begitu juga terhadap anak-anak. Kita ibunyalah yang bisa menerima anak-anak kita dengan semua kekurangan dan kelebihan anak kita kan! Anakku yang satu suka tiba-tiba bete kalau belum makan hihi…cepat pundung atau mengambek, tapi di sisi lain dia sangat rajin shalatnya, rajin mengerjakan PRnya dan banyak kelebihan lainnya. Tipe anakku yang lain, sangat sering ingin sesuatu, tapi suka nggak mau bilang apa maunya…aduh bikin aku bingung aja deeh..!! Kadang sabarku sudah mau habis, karena nggak mengerti maunya apa, agak kudu dirayu dikiiit, pakai perjuangan! Tapi anakku itu sangat manis, paling sering ingat ibunya kalau dia pergi, ada saja yang dia bawa sebagai oleh-oleh untuk aku, kadar perhatiannya luar biasa….Subhanallah, aku ucapkan syukur Alhamdulillah ya Allah….
Jadi ternyata sungguh nikmat dan bahagianya bila kita sudah mencapai tingkat sebagai orang yang lebih banyak MENCINTAI, lebih banyak MEMBERI, disertai rasa TULUS, IKHLAS dan TANPA PAMRIH (semoga ya, aku bisa jadi orang yang begitu….) Sedikit demi sedikit kucoba hilangkan konteks “TAKE & GIVE” rubah aja jadi TO GIVE…karena aku YAKIN Allah akan limpahkan kebaikan bila aku sudah lakukan kebaikan. Semuanya diniatkan Lillahi ta’ala. Hidup semakin ringan saja dalam mencintai dan memberi dan membantu, karena yakin Allah yang MAHA PEMBERI untuk kita…(mungkin bisa diingat juga hikmah film “Pay It Forward” kan….).
Mencintai adalah sebuah energi positif yang tak hanya menggerakkan hati seseorang untuk mencintai balik, tapi juga menggerakkan hati semesta. Insya Allah, semestalah yang akan mencintai balik….
Ini sebuah sharing, tulisan pandangan aku, yang aku tulis dalam upaya dan ikhtiarku untuk menjadi “Hamba Allah yang lebih baik untuk mencapai Dunia Bahagia Akhirat Surga”. Semoga bermanfaat!
Regina
Bandung, 29 Januari 2009
Sumber :
- Artikel “Love or To Be Loved” (Majalah Noor Januari 2009)
- Sentuhan Kalbu
- School of Life
Klik Button
'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.
Share To Facebook