Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.
Belajar Menyimak
Asfa Davy Bya
Selasa, 31 Maret 2009
Kategori : Akidah dan Akhlaq
Tak terasa sebentar lagi bangsa ini akan menyambut pemilu, sebuah pesta demokrasi, ajang para orator menunjukkan taringnya. Semua orang berbicara, berdebat, adu argumentasi, menjual kecap nomor satu, persoalannya; adakah yang mendengarkan ocehan mereka? Sungguh menyedihkan, semakin dewasa bangsa ini, semakin banyak bicara pemimpinnya ketimbang menyimak dan bekerja. Padahal Allah swt menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut, bukan sebaliknya. Hal ini dipicu karena semakin hari umat Islam semakin tak menyimak apa yang terjadi, apa yang disampaikan kepadanya, dan apa yang dilihatnya. Kita hanya terbiasa mendengar, tidak menyimak!
Menyimak adalah sebuah sikap, sedangkan mendengar, belum tentu menyimak. Contohnya, kita sering mendengar imbauan para ustadz dan alim ulama dalam sidang jumat atau majelis-majelis ta'lim, tapi ketika keluar dari masjid atau majelis kita sudah lupa apa yang disampaikan. Baru semeter melangkahkan kaki, mulut kita tak tahan untuk tidak membicarakan aib orang lain, hati mengumpat ketika sepatu hilang. Butiran kata hikmah dari al-Qur'an dan Hadits yang didengar beberapa menit sebelumnya, tak tersisa dan tertanam di dalam kalbu, ia menguap dari telinga kanan dan telinga kiri.
Menyimak adalah juga sebuah proses pembelajaran. Karena tak akan sampai sebuah ilmu kepada murid jika ia tak menyimak apa yang disampaikan guru. Rasulullah saw menerapkan proses pembelajaran dan penghafalan Al-Qur'an kepada para sahabat dengan cara membaca dan menyimak. Rasulullah saw bahkan adalah pribadi yang sangat menghargai lawan bicaranya. Beliau senantiasa mendengar dan menyimak setiap kata yang diucapkan para sahabat maupun seteru-seterunya. Beliau selalu menyimak dengan khidmat apa yang disampaikan oleh para sahabat. Anas bin Malik meriwayatkan, "Apabila ada seseorang mendekati Rasulullah saw dengan maksud berbisik, Beliau menundukkan kepala agar orang yang bersangkutan dapat mendekati telinga Beliau. Tiap berjabat tangan dengan orang lain Beliau selalu mengulurkan tangan lebih dulu sampai orang lain itu menyambutnya. Setiap bertemu dengan orang lain, Beliau selalu mendahului mengucapkan salam dan menjabat tangan." (al-Hadits).
KIta juga tahu, Rasululullah saw mendengar dan mengikuti pendapat sahabat Salman al-Farisi ra ketika perang Khandaq terjadi. Padahal Beliau adalah seorang yang ma'shum, yang pribadinya adalah pribadi yang Qur'ani. Tetapi Nabi saw justru mengajarkan kepada kita untuk menyimak dan menghargai pendapat orang lain. Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra ketika menjabat sebagai Khalifah adalah sosok pribadi yang senantiasa menyimak dan menghargai pendapat orang lain. Simak pula ketika 'Umar ra ditegur oleh seorang perempuan, dan beliau pun mengkoreksi pendapatnya dengan berkata, "Perempuan itu benar dan 'Umar telah bersalah!"
Saudaraku, mengapa topik ini al-Fakir angkat? Ini disebabkan adanya kesalahan fatal dalam mengembangkan metode dakwah saat ini. Bukankah sudah tertanam dalam pikiran umat saat ini, untuk melihat dan mendengarkan 'Siapa yang berbicara', bukan pada 'Apa yang diucapkan!' Umat kita akhirnya terpola untuk memperhatikan simbol-simbol keislamaan ketimbang kualitas keimanan. Banyak dari mereka yang terpana dan begitu hormatnya ketika melihat seorang ustadz hadir dengan surban, jubah, tongkat dan tasbih di tangannya tetapi lebih mengutamakan dagelan dalam khutbahnya. Ketimbang seorang ustadz yang hanya mengenakan kupiah dan baju koko biasa, namun senantiasa berpatokan pada Al-Qur'an dan Hadits dalam khutbahnya. Padahal pola berpikir itu bertentangan dengan Hadits Nabi Saw yang berbunyi, "Perhatikanlah pada apa yang dikatakan, jangan kauperhatikan siapa yang mengucapkan." (al-Hadits).
Saudaraku, coba kilas balik perjalanan sejarah pembelajaran kita. Apakah keberhasilan kita mencapai gelar kesarjanaan atau menamatkan studi di sekolah, kita lalui begitu saja tanpa pernah menyimak apa yang disampaikan oleh guru. Apakah kita baru mau menyimak setelah kita meneliti terlebih dahulu ras, moral, atau akhlak sang guru? Bukankah Rasulullah Saw pernah memanfaatkan tawanan Perang Badar (orang-orang Kafir) sebagai guru baca-tulis bagi anak-anak Muslim sebagaimana disebut dalam riwayat Turmudzi dan Ibnu Majah.
Alangkah repotnya beribadah jika melihat siapa yang berbicara dijadikan landasan pembelajaran, karena kita akan disibukkan untuk meneliti latar belakang keimanan seorang imam agar kita mau menjadi makmum dalam shalat berjema'ah. Betapa rumitnya keberagamaan kita jika paradigma 'Siapa yang berbicara' dijadikan tolok-ukur!
Kalau kita mau jujur, hal itu terjadi karena sistem pendidikan kita selama ini terlalu berorientasi kepada pencetakan anak didik yang memiliki kecerdasan intelektual belaka. Akibat dari sistem inilah yang kemudian mencetak sarjana-sarjana yang kurang memperhatikan landasan keimanan dan ketaqwaan dalam mengimplementasikan keilmuannya. Mereka dicetak menjadi manusia-manusia yang melulu mengejar prestasi dan akhirnya posisi keduniawian. Persaingan tak terelakkan, dan nilai-nilai agama tak diperhatikan. Mereka tercetak menjadi manusia yang memiliki hati yang keras karena kesombongan intelektual yang dimilikinya. Mereka mengagung-agungkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari pembelajaran di Negara-negara Barat yang Kafir.
Sikapnya cenderung meremehkan pembicaraan orang lain, karena pola yang dibentuk adalah pola debat, menang atau kalah. Jadi telinganya mungkin saja mendengar apa yang disampaikan, tetapi hatinya melecehkan lawan bicaranya. Dia melihat lawan bicaranya ibarat burung sedang berceloteh. Dia menatap lawan bicaranya, tetapi tak mendengar apa yang sedang dibicarakan.
Menyimak dengan demikian dapat dijadikan cermin akhlak seseorang. Karena begitulah pola yang Islami, pola yang dikembangkan oleh Rasulullah Saw. Islam tak mengenal sistem kependetaan, ini tercermin dari halaqah-halaqah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ketika berdakwah atau berdiskusi dengan para sahabat. Mereka duduk melingkar mengelilingi Nabi Saw atau kadang duduk membentuk shaf menghadap Nabi Saw. Rasulullah Saw dan para sahabat senantiasa mengembangkan sistem musyawarah, di mana setiap pendapat didengarkan, disimak dan diputuskan secara bersama-sama. Tidak ada yang dominan, kecuali ketika Rasulullah Saw menyampaikan wahyu yang diterimanya melalui Malaikat Jibril.
Sayangnya kita belum terbiasa dengan budaya menyimak, apalagi dengan budaya musyawarah. Kita masih menganggap menyimak itu sama dengan mendengar. Akibatnya kita lebih mengutamakan hal-hal yang enak didengar ketimbang hal-hal yang dapat menggugah kalbu akibat kelalaian dan dosa yang kita lakukan selama ini. Sebagian besar jema'ah kita lebih suka memilih mubaligh yang gemar menyuguhkan humor dalam dakwahnya ketimbang kualitas. Sampai-sampai ada anekdot, keberhasilan seorang mubaligh tergantung dari berapa jauh dia dapat membuat jema'ah tertawa terpingkal-pingkal. Akibatnya, kualitas dan misi dakwahnya pun hanya bisa sampai membuat orang tertawa, belum dapat membuat orang tersentuh, apalagi mengubah akhlak. Bukankah hampir tak pernah ada dakwah yang berhasil mengubah perilaku seorang perokok menjadi berhenti merokok? Perhatikan pula, berapa persen keberhasilan suatu dakwah dapat menggiring kaum Muslimah sehingga mereka sadar untuk segera menggunakan jilbab sebagaimana yang diperintahkan dalam surat al-Ahzaab ayat 59!
Saudaraku, mari kita saling mengingatkan satu sama lain. Tanpa perlu melihat siapa yang mengingatkan. Bukankah Sayyidina 'Umar bin Khaththab ra dulunya seorang yang sangat memusuhi Islam, bukankah Fudahil bin Iyadh ra terkenal sebagai raja perampok ketika belum memeluk Islam. Buka mata hati untuk menerima siraman ayat-ayat Allah dan Hadits Nabi darimana pun datangnya!
Mohon maaf lahir batin.
Jabat Erat dari DEsa Pamulang Barat
Davy BYA SH
Klik Button
'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.
Share To Facebook