Welcome to Spiritual Sharing
Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.

   Read to Content
SPIRITUALISME ISLAM: antara mistisisme dan klenik

Asfa Davy Bya
Jum'at, 07 Agustus 2009
Kategori : Akidah dan Akhlaq

Dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan dan dihadiri oleh para praktisi lembaga keuangan syariah di negeri ini, diperoleh suatu asumsi yang membuat adrenalin mereka terpacu untuk terus menggali dan menjual produk-produk mereka di masyarakat. Asumsi itu adalah, mereka berniaga dalam masyarakat Indonesia yang dikenal agamis. Buktinya, mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam. Parameter lainnya, setiap jumat, masjid serasa tak mampu menampung tumpahnya jama’ah shalat jumat. Belum lagi saat ramadhan tiba, dan beberapa hari menjelang hari Idul Fitri. Semua pasar tampak sesak oleh melubernya penjaja dan pembeli. Apalagi yang namanya perempuan Islam sekarang tak malu lagi menggunakan jilbab.

Istilah masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang agamis ini agaknya tak bisa dipungkiri. Menjamurnya majelis ta’lim bagi kaum muslimah, dan lembaga-lembaga pengkajian di kota-kota besar makin memperkuat asumsi itu. Jika sedang mujur, Anda akan melihat sejumlah poster, spanduk dan baliho raksasa yang menampilkan gambar ustadz, habib atau kiai memenuhi pinggiran jalan dan di sudut-sudut jalan, sebuah pertanda sang ustadz akan menggelar zikir akbar, istighosah atau haul. Sungguh, pemandangan seperti ini tak akan Anda jumpai di tanah Arab, yang nota bene, tempat awal tumbuh dan berkembangnya ajaran Islam.

Ada yang mengatakan trend ini menunjukkan spiritualitas masyarakat semakin membaik. Istilah ”spiritualitas” digunakan untuk menunjukkan kualitas iman seseorang dalam memahami agama dan Tuhannya. Dunia spiritualitas esensinya berkaitan erat dengan sesuatu yang berkonotasi keruhanian atau kebatinan, sebagai lawan dari ”yang kasat mata.” Al-Qur’an membicarakannya dalam ayat-ayat yang membicarakan tentang ”ruh.” Dalam Islam, ruh menjalar melalui segala sesuatu yang mengungkapkan Dzat Yang Maha Esa dan menuntun kepada-Nya, karena tujuan tertinggi Islam adaah mengungkapkan keesaan dari Prinsip Ilahi dan menyatukan dunia keragaman dalam cahaya keesaan itu.

Tetapi apakah benar, masyarakat yang agamis ini identik dengan meningkatnya kehidupan spiritualitas mereka? Jawabnya, belum tentu! Mengapa? Karena praktik syari’ah yang ditunjukkan oleh sebagian besar umat Islam negeri ini ternyata masih bersifat ritual, atau seremonial. Coba bayangkan, masyarakat yang ”katanya” agamis ini menduduki peringkat lima besar dalam melakukan korupsi. Dalam beberapa kasus terakhir, malah melakukan korupsi berjama’ah, bukan shalat saja yang berjama’ah rupanya! Lihatlah di beberapa daerah di negeri ini, tradisi kemusyrikan warisan nenek moyang yang telah mengakar ternyata masih belum dapat ditinggalkan begitu saja. Kendati diawali bacaan al-Fatihah, mereka menanam kepala kerbau untuk syukuran pembangunan gedung atau jembatan. Dengan ucapan basmalah, mereka melarung sesajen ke laut lepas guna menolak bala’. Untuk menambah kekayaan dan murah rezeki, mereka melakukan ritual mandi kembang tujuh rupa, ziarah ke kuburan keramat seraya memohon berkah dari si mayit, atau mandi tengah malam di sumur yang ditengarai airnya akan membawa keberkahan.

Di samping aroma klenik di atas, masyarakat kita yang mayoritas Muslim ini ternyata gemar juga berhubungan dengan dunia supranatural. Alasannya, Islam beriman kepada hal yang ghaib. Sebuah dalih untuk melakukan pembenaran atas perlaku menyimpang atau sesat yang mereka lakukan selama ini. Bukan tak sedikit para pejabat kita yang memiliki ”pegangan” berupa keris, atau benda-benda lainnya, dan mantera-mantera yang dijadikan jimat. Katanya, untuk ”melindungi diri” dan ”membawa keberuntungan.” Tentu saja Islam tak membenarkan perbuatan syirik semacam ini, dan perilaku berbau klenik ini bukanlah bagian dari kehidupan spiritualitas sebagaimana yang dimaksudkan dalam Islam.

Spiritualitas adalah tauhid, dan tingkat pencapaian spiritual yang berhasil dicapai oleh setiap manusia tak lain adalah tingkat kesadarannya akan tauhid ini. Kita tahu bahwa Prinsip Keesaan (al-Tauhid) terdapat dalam inti pesan Islam dan menentukan spiritualitas Islam dalam seluruh dimensi dan dalam berbagai bentuknya yang beragam. Menurut Prof. Seyyed Hoessein Nasr, ”Esensi spiritual Islam adalah realisasi dari Keesaan, sebagaimana terungkap dalam al-Qur’an, berdasarkan teladan kenabian dan dengan bantuan Nabi. Tujuan dari spiritualitas ini adalah memperoleh sifat-sifat Ilahi dengan jalan meraih kebaikan-kebaikan yang dimiliki dalam kadar sempurna oleh Nabi dan dengan bantuan metode-metode serta anugerah yang datang dari-Nya dan wahyu al-Qur’an.”

Dalam pengertian duniawi, spiritualitas Islam tak lain adalah realisasi tauhid. Kajian dan tela’ahnya tak lain adalah meneliti pengaruh yang mendalam dari tauhid pada kehidupan, tindakan-tindakan, dan pemikiran dari segmen umat manusia yang membentuk masyarakat Islam atau ummah. Jadi, semua tindakan yang menyekutukan Allah swt dan tak sesuai dengan sunnah Rasulullah saw, walau dibungkus dengan kemasan syariah, pasti bukanlah bagian dari pemahaman spiritualitas atau apapun namanya.

Islam mempertahankan spiritualitasnya sebagai ’agama milik Tuhan.’ Ini mensyaratkan kaum Muslim untuk selalu aktif menjaga ibadahnya, tidak hanya menjalankan rutinitas, dengan jalan mengisi ritual mereka dengan kehidupan batin melalui proses spiritualisasi, sehingga mereka tak terpaku pada perbuatan lahiriah semata, tetapi harus dapat mencapai keseimbangan antara tindakan dan pemikiran, bekerja dan berdoa.

Semua mistisisme Islam telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam meningkatkan kesalehan dan pengetahuan mengenai Islam di kalangan masyarakat awam. Salah satu unsur yang turut mengembangkan spiritualitas Islam adalah jalan sufisme, orang Barat menyebutnya sebagai mistisisme dalam Islam. Sufisme bukan hanya merupakan penyeimbang bagi ancaman agama yang terlalu bersifat legalistik, tetapi berkat persaudaraan-persaudaraan Muslim itulah maka Islam masih tetap bertahan bahkan dalam kondisi yang luar biasa buruknya, seperti di Republik-republik Asia Tengah pada masa kekuasaan Uni Soviet dan di Albania yang komunis

Menurut Murad W. Hofmann, seorang mualaf, Doktor Ilmu Hukum asal Jerman yang saat ini mukim di Istambul, ”Salah besar jika kita percaya bahwa mistisisme Islam tidaklah mempunyai peranan penting di era rasionalistik kita sekarang ini. Justru sebaliknya! Kelompok tarekat klasik besar -terutama Naqsyabandiyah, yang mempunyai 450 rumah darwisy di Istambul pada 1920- masih tetap hidup sebagaimana thuruq (persaudaraan sufi) lainnya yang lebih muda. Yang menonjol keberhasilannya dalam menyebarkan Islam di Afrika Barat adalah tarekat Ahmadiyah, yang didirikan pada awal abad ke sembilan belas oleh tokoh dari Aljazair, Ahmad Tijani. Kini, dengan pusatnya di Fez, Marokko, tarekat tersebut menjadi kekuatan politik, ekonomi, dan sosial terbesar di Senegal, berdampingan dengan tarekat Muridiyah.”

Mungkin kita akan heran jika tahu bahwa banyak tokoh Muslim Barat yang menonjol, terutama di Perancis, telah menemukan jalan mereka ke dunia Islam melalui mistisisme. Yang paling terkenal di antara mereka ini di antaranya, Rene Guenon (alias Syaikh Abdul Wahid Yahya dari persaudaraan Syadziliyah, 1886-1951), yang karyanya La Crise du Monde Moderne telah diterbitkan dalam tujuh edisi pada 1946. Di Inggris, ada Martin Lings (alias Abu Bakar Sirajuddin) yang medapatkan petunjuk ke jalan ini dari Syaikh al-’Alawi dari Aljazair. Di antara orang-orang Eropa ini ada tokoh-tokoh –seperti Charles, Andre Gillis- yang mencurahkan diri mereka untuk menyelami spekulasi tanpa rintangan dan tak terbatas, di mana kita hanya bisa mengagumi betapa banyak yang tampaknya dikeahui oleh rekan-rekan sezaman kita mengenai Tuhan dan ciptaan-Nya.

Ada benang tipis yang membuat masyarakat awam sulit membedakan antara mistisisme dengan perilaku klenik, apalagi jika pelakunya sama-sama menggunakan jubah atau simbol keislaman. Apalagi keduanya berbicara dalam ranah ghaib atau dunia kebatinan. Untuk membedakannya, terletak pada sejauh mana geraham kita mampu menggigit erat al-Qur’an dan as-Sunnah dalam melakoni kehidupan ini. Sebagaimana penolakan yang dilakukan syaikh Abdul Qadir al-Jilani atas suara yang muncul dari seberkas cahaya dari langit, cahaya itu mengaku dirinya adalah Tuhan, lalu berseru membolehkan syaikh melakukan hal yang diharamkan-Nya. Beliau pun lalu berta’awwudz lalu berseru, ”ikhsya yaa la’iin” (menjauhlah dariku wahai syaitan yang terlaknat). Bagaimana syaikh dapat mengetahui bahwa itu adalah suara syaitan? Beliau berkata, ”Dari ucapannya! ’Telah aku perbolehkan bagimu apa yang diharamkan.’ Karena setahuku, sungguh Allah Ta’ala tidak akan memerintahkan berbuat jahat.”

Karena itu, jangan terlalu berbangga diri dengan kemayoritasan kita. Bukankah di balik jubah Islam, masih banyak kelompok sempalan yang mengaku beragama Islam tetapi berbai’at kepada ”nabi” paska kenabian Muhammad saw? Bukankah masih ada sekelompok orang yang mengaku beragama Islam tetapi memiliki kitab suci yang ”mirip” al-Qur’an, yang ”katanya” kumpulan wahyu yang diturunkan kepada ”nabi” mereka? Pertanyaannya, mengapa masih ada saja saudara kita sesama Muslim yang menjadi pengikut kelompok-kelompok semacam itu?

Itu semua antara lain, karena kita masih berbangga diri disebut sebagai masyarakat yang agamis. Yang kita butuhkan sebenarnya adalah menciptakan masyarakat yang bertauhid, yang memiliki spiritualitas dalam menjalankan kehidupan dunianya. Bukan masyarakat yang tenggelam dalam rutinitas ritual yang penuh dengan kesakralan palsu, yang terheran-heran melihat sebilah keris bisa berdiri tegak tapi tak heran melihat langit terbentang tanpa penyangga, atau masyarakat yang mahir dan gemar menggunakan serta menafsirkan sendiri dalil-dalil al-Qur’an untuk pembenaran perilaku maksiat atau kemusyrikan yang dilakukannya. Masyarakat yang bertauhid adalah masyarakat yang memiliki geraham yang kuat untuk menggigit al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai peta kehidupan bagi diri mereka di dunia ini, sebagaimana yang diwasiatkan oleh manusia suci, Muhammad Rasulullah saw.

Desa Pamulang Barat
DAVY BYA, SH


Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.






Help | Contact Us