Welcome to Spiritual Sharing
Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.

   Read to Content
ZIKIR BERJAMA’AH

Erwin Vetriano
Jum'at, 22 Mei 2009
Kategori : Manajemen Qolbu

Kita sering dapati didalam masyarakat membentuk Majelis zikir. Masyarakat terkadang membentuk majelis zikir ba’da shalat, pada saat syukuran karena memperoleh ni’mat dari Allah atau pada saat memperoleh musibah atau duka cita seperti misalnya sering disebut tahlilan, Ratiban, khataman. Ada zikir yang dilakukan dengan mengeraskan suara dan ada yang melakukan dengan pengucapan didalam hati (Khofi). Semua dilakukan agar memperoleh ridha dan pertolongan Allah.
Dengan zikir berjama’ah, Allah akan membanggakan mereka dihadapan para Malaikat-Nya, dan paling efectif mendatangkan rahmat atau ridha Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw. :
Dari Abu Said Al Khudri RA, dia berkata,”Pada suatu hari Muawiyah RA melewati sebuah halaqah (Majelis) di masjid. Kemudian ia bertanya, ’Majelis apakah ini?’
Mereka menjawab,”Kami duduk di sini untuk berzikir kepada Allah azza wa Jalla.”
Muawiyah bertanya lagi,”Demi Allah, benarkah kalian duduk-duduk di sini hanya untuk itu?”
Mereka menjawab,”Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu.”
Kata Muawiyah selanjutnya,”Sungguh saya tidak menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian. Karena tidak ada orang yang menerima hadis dari Rasulullah SAW lebih sedikit daripada saya.”
Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah SAW bertanya,”Majelis apa ini?”
Mereka menjawab,”Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memujinya-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami.”
Rasulullah SAW bertanya lagi,”Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk itu?”
Mereka menjawab,”Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini.”
Kata Rasulullah selanjutnya,”Sesungguhnya aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasannya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim)

Berdasarkan sabda Rasulullah saw tersebut menjadi pahamlah orang-orang yang hatinya mendapat petunjuk Allah, bahwa majelis zikir atau zikir berjamaah adalah majelis yang dibanggakan Allah dihadapan malaikatnya, walaupun sering disebut bid’ah oleh orang-orang yang tertutup hatinya dari menerima hidayah dan terbelenggu oleh kebodohan.
Zikir berjamaah juga akan mendatangkan terkabulnya doa, dan pertolongan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadist qudsi:
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda,”Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus menerus berkeliling mencari majelis zikir.
Apabila mereka telah menemui majelis zikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah.
Apabila majelis zikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit.
Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya,”Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zat yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka,”Kalian datang dari mana?”
Mereka menjawab,”Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepadaMu ya Allah.”
Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya,’Apa yang mereka minta?’
Para Malaikat menjawab, ”Mereka memohon surga-Mu ya Allah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi,”Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?”
Para Malaikat menjawab,”belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,”Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku.”
Para Malaikat berkata,”Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala balik bertanya,”Dari apa mereka minta perlindungan pada-Ku?”
Para Malaikat menjawab, ”Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari Neraka-Mu ya Allah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi,”Apakah mereka pernah melihat Neraka-Ku?”
Para Malaikat menjawab,”belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,”Bagaimana seandainya mereka pernah melihat Neraka-Ku.”
Para malaikat berkata,’Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu?”
Maka Allah SWT menjawab,”Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka.”
Para Malaikat berkata,”Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.”
Maka Allah menjawab,”Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang menyebabkan orang-orang yang duduk bersamanya terhindar dari celaka.”(HR.Muslim)
Dari Hadist tersebut di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa majelis zikir tersebut bukan majelis ceramah atau pengajian lain yang sejenis seperti pengertian orang-orang yang anti zikir karena jelas yang dilakukan sahabat adalah menyebut asma-Nya dan memuji-Nya, dalam hadist tersebut juga terungkap adanya doa bersama dengan adanya ungkapan ”Mereka memohon ampun kepada-Mu”, dengan adanya kata ganti mereka bermakna mereka melakukan doa dan zikir secara jamaah, dan hal ini dipertegas lagi perkataan malaikat : ”Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.” Jelas orang tersebut tidak ikut zikir dan doa secara berjamaah, namun turut mendapat ampunan Allah dan terhindar dari celaka dan medapat barakah majelis zikir. Mudah-mudahan dengan membaca tulisan ini bagi orang-orang yang selama ini sering mencap bid’ad dan sesat kepada muslimin yang melakukan zikir berjama’ah dan doa berjamah, tulisan ini menjadi pintu masuk kehamparan cahaya hidayah Allah.
Majelis zikir juga akan mendatangkan rahmat dan ketenangan seperti sabda Rasulullah saw.:

”Tidaklah berkumpul sekelompok orang untuk berdzikir kepada Allah, melainkan para Malaikat mengerumuni mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan (sakinah) menghampiri mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang berada di sisi-Nya.” (HR. Tirmizi)
Orang yang berzikir akan mendapat ketenangan dan Rahmat Allah. Rahmat Allah inilah yang menyebabkan seseorang masuk surga-Nya sebagai mana sabda Rasulullah saw
Dari Aisyah RA, dia berkata,”Rasulullah SAW telah bersabda, ”Perbaikilah dirimu, ucapkanlah kebaikan, dan sampaikanlah kabar yang menyenangkan. Sesungguhnya amal seseorang tidak dapat memasukannya ke dalam surga.”
Para sahabat bertanya,”Apakah termasuk amal perbuatan Anda juga ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab,”Ya Termasuk juga amal perbuatanku, kecuali apabila Allah mencurahkan rahmat-Nya kepadaku. Ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah amal yang berkesinambungan meskipun sedikit.” (HR. Muslim)
Jelaslah semua amal yang kita lakukan tanpa Rahmat Allah, akan menjadi amal yang tidak Ikhlas, Amal yang Riya’ dan amal yang menghasilkan ujub (membanggakan amal sendiri), amal yang tidak disertai berzikir Allah ketika melakukannya akan menjadi amalan yang dimasukan kekeranjang sampah oleh Allah.
Berdasarkan hadis diatas “Ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah amal yang berkesinambungan meskipun sedikit (Wirid).” (HR. Muslim), Rasullah mengajarkan kita agar mempunyai wirid, karena sangat disukai oleh Allah. Maka berdasarkan hal tersebut kaum muslimin melakukan wirid ba’da shalat Magrib misalnya dengan bacaan dan jumlah tertentu yang dilakukan rutin pada waktu tertentu.

Lakukan semua amal dan zikirmu dalam rangka mengharap Rahmat atau Ridha Allah semata, jangan pernah terbersit didalam hati kita keinginan selainnya. Orang yang ma’rifat kepada Allah beramal tapi tidak merasakan beramal. Setiap beramal baik yang dilakukan itu diyakini sebagai dorongan dan kehendak Allah. Terhadap amal baik itu, ia tidak merasa mempunyai kekuatan atau energi sedikitpun. Sehingga, dia tidak mengharapkan apa pun dari Allah. Semuanya terserah Allah.
Bolehkah zikir dilakukan dengan suara keras secara berjamaah atau sendiri-sendiri?. Boleh. Sebagaimana dalam Hadis Riwayat Al-Bukhari :

••
“Diceritakan oleh Ibnu Abbas ra, “Sesungguhnya berzikir dengan mengeraskan suara setelah selesai shalat fardhu, ada dilakukan di zaman Nabi SAW. Kata Ibnu Abbas meneruskan,.”Aku tahu setelah orang-orang selesai shalat wajib, saya dengar begitu.”
Dalam kalangan sufi, bagi salik yang hatinya belum sepenuhnya hadir bersama Allah, wajib melakukan zikir secara keras untuk memerangi lintasan-lintasan hati yang selalu menyerang setiap saat kepada salik yang baru menempuh perjalanan menuju Allah. Bacaan zikir lisan yang paling baik adalah “La Ilaha Illallah”. Dengan zikir lisan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan khusyuk hati akan menjadi bersinar karena cahaya zikrullah di dalam hati. Ketika itu hati akan memperoleh tenaga baru yang menjadikannya hidup.
Dalam komunitas sufi yang kondisi ruhaninya sudah lebih baik, mereka juga mengamalkan zikir khafi atau zikir tanpa suara atau zikir yang dilakukan oleh ruh, kalbu dan sirr atau jati dirinya dengan ucapan ALLAHU ALLAH sebagai mana sabda Rasulullah : ” Tidak akan datang hari kiamat kecuali tidak ada lagi dipermukaan bumi ini yang menyebut : Allah, Allah.(HR. Muslim).
Majelis Zikir adalah Raudha (Taman) Surga
Bagi saudaraku yang pernah ziarah ke Masdjid Nabawi, tentu pernah tahu, bahkan pernah mendatangi Raudah yang terletak antara Mimbar Nabi dengan rumah Nabi. Namun sedikit yang tahu apa itu Raudha (taman). Raudha adalah tempat majelis zikir tim munajat rasulullah atau ahlus sufa, sebagai mana sabda Nabi saw. :
“Mambayna bayti wamimbariy raudhatum mirriyaadhil jannah” (Diantara rumahku dengan mimbarku, suatu raudhah (taman) dari riyadhul jannah (HR. Muttafaq alaihi)
“Anas bin Malik menyatakan, Muhammad Rasulullah saw. Bersabda:”Apabila kalian melewati taman surga, maka hendaklah kalian tingkatkan perhatian kalian.
Para sahabat bertanya,”Apakah taman surga itu?” “Kelompok-kelompok (orang yang melakukan) zikir.” (HR. Tirmizi)
Jadi jelaslah Raudha bukan hanya di Masjid Nabawi, namun adalah setiap Majelis Zikir adalah Raudha. Maka selayaknya orang-orang yang mendatangi Raudha di Masjid Nabawi hendaknya memperbanyak zikir Allah dan shalawat, setelah itu berdoa untuk kebaikan di dunia dan Akhirat. Dalam praktiknya, sekarang ini orang mendatangi raudha seperti orang membawa proposal permohonan untuk memenuhi keinginan-keinginan hawa nafsunya, jauh dari zikir Allah, bahkan terkadang saling menyakiti untuk mendapatkan tempat didepan.


Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.






Help | Contact Us