Welcome to Spiritual Sharing
Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.

   Read to Content
Kiat Untuk Dapat Memuji Allah Ketika Tertimpa Musibah

Abdul hakim
Jum'at, 22 Mei 2009
Kategori : Akidah dan Akhlaq

Alhamdulillâh, mengandung dua dua arti akibat adanya huruf alif dan lâm yang dilekatkan dipermulaan kata hamd (pujian). Pertama, alif dan lâm mengandung pengertian mencakup/meliputi segala sesuatu (istighrâq/encompassing). Kedua, alif dan lâm mengandung arti tertentu (ma’rifah/definite).

Arti pertama alhamdulillâh: Segala pujian hanyalah milik Allah semata.

Pujian apa pun yang terjadi di berbagai jenjang eksistensi, sadar atau tidak sadar, semuanya mengarah hanya kepada Dia Yang Maha Terpuji (al-Hamîd). Pujian dapat terjadi pada empat kemungkinan yaitu Allah memuji diri-Nya sendiri, Allah memuji mahluk-Nya, mahluk memuji Allah dan mahluk memuji sesama mahluk. Keempat jenis pujian itu semuanya mengarah kepada Allah Ta’ala. Mari kita lihat keempat jenis pujian tersebut.

1. Allah swt memuji diri-Nya sendiri.
Contoh: Allah swt memuji diri-Nya sendiri ketika berfirman di al-Quran," Alhamdulillâhi rabbil ’âlamîn (segala pujian adalah milik Allah Rabb semesta alam)." (QS.al-Fatihah:2), atau di berbagai ayat lain yang senada. Jelas, pujian ini tak disangsikan lagi terarah langsung kepada Allah.

2. Allah memuji mahluk-Nya
Contoh: Dia berfirman dalam al-Quran," Dan sungguh engkau (wahai Muhammad) benar-benar berakhlak sangat agung." (QS.al-Qalam:4). Ketika Allah memuji mahluk, bukankah Dia sedang memuji hasil karya-Nya sendiri. Hasil karya-Nya adalah demonstrasi kemahasempurnaan ilmu, hikmah, kehendak dan kekuasaan-Nya. Artinya ketika Allah memuji mahluk-Nya hakikatnya Dia sedang memuji diri-Nya sendiri. Pujian jenis ini pun kembali kepada Allah.

3. Mahluk memuji Allah swt
Selesai shalat kita biasa melantunkan kalimat alhamdulillâh 33x atau pada saat merasakan curahan nikmat, mendapat rejeki, sembuh dari sakit atau selamat dari bencana kita mengucapkan alhamdulillâh. Pujian ini tentunya kita arahkan kepada Allah Ta’ala yang telah melimpahkan itu semua untuk kita.

4. Mahluk memuji sesama mahluk
Perhatikan ketika kita sedang memuji anak yang pintar, orang kaya yang dermawan, orang sakit yang bersabar atau siapa pun yang membuat kita kagum. Bukankah kita sebenarnya sedang mengagumi ciptaan Allah Ta’ala dan memuji ciptaan itu? Ciptaan adalah manifestasi kemahasempurnaan sang Maha Pencipta. Artinya, pujian jenis ini pun, sadar atau tidak sadar, kembali kepada Allah swt.

Arti kedua dari alhamdulillâh: Pujian yang pantas untuk Allah adalah pujian yang sempurna sesuai dengan kemahasempurnaan zat, sifat dan perbuatan-Nya.

Huruf alif dan lâm yang dilekatkan pada awal suatu kata menjadikan kata itu bersifat khusus atau tertentu/definit. Sehingga ketika kita mengucapkan alhamdulillâh, pujian yang kita maksudkan bukanlah pujian biasa yang ada dalam jangkauan nalar dan hati kita tetapi sebuah pujian yang sesuai dengan kemahasempurnaan zat, sifat dan perbuatan Allah yang tak terjangkau analisa akal dan penyaksian mata hati. Hal ini tersirat pada munajat Nabi saw:

lâ uhshî tsanâ an ’alaika
anta kamâ atsnaita ’alâ nafsik
(aku tidak dapat menghimpun pujian yang sepantasnya untuk-Mu.Yang pantas untuk-Mu adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri)
(HR. Muslim dari ’Ậisyah ra)

Kalau saja Allah tidak menurunkan kepada kita kalimat alhamdulillâh maka tidak ada satu kata pun yang dapat kita pakai untuk menyanjung Dia. Sebab seluruh kata yang berasal dari pikiran dan hati kita sepenuhnya dalam tataran keterbatasan mahluk. Bagaimana mungkin kata-kata yang keluar dari wilayah keterbatasan pantas untuk Zat yang Absolut itu. Syukurlah Allah menurunkan kalimat alhamdulillâh dari lautan perbendaharaan ilmu-Nya kepada kita. Sehingga, meskipun kalimat alhamdulillâh itu kemudian kita ucapkan dalam susunan huruf dan bunyi yang terbatas dengan makna yang kita pahami melalui pikiran dan hati kita yang serba terbatas pula, tetapi ucapan itu tetap terhubung dan bersambung dengan hakikat alhamdulillâh yang agung dan sakral dalam samudera pengetahuan Allah Yang Maha Terpuji.

Sehingga, kalimat alhamdulillâh adalah kalimat yang paling tepat untuk kita pergunakan menyanjung kemahasempurnaan-Nya, baik menyangkut zat, sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dari yang Maha Sempurna pastilah keluar kesempurnaan pula. Termasuk tindakan-tindakan-Nya atas diri-diri kita melalui qadhâ dan qadar, apakah itu berupa curahan nikmat atau hantaman musibah,Ia sangat pantas untuk disanjung dengan ucapan alhamdulillâh.

Rasulullâh saw bersabda," Yang pertama kali akan dipanggil masuk surga adalah orang Para Pemuji, yaitu orang yang senantiasa memuji Allah di kala lapang maupun sempit." (HR. Thabranî dari Ibnu ’Abbâs ra)

Mereka adalah orang yang sanggup melihat demonstrasi kemahasempurnaan Allah dalam lapang dan sempit. Sehingga ketika lapang mereka mengatakan alhamdulillâh dan ketika sempit pun mereka mengatakan alhamdulillâh. Nikmat dan musibah datang dari sumber yang sama, yaitu ilmu, hikmah, rahmat, kehendak dan kuasa Allah Ta’ala.

Bersabda Nabi saw," Apabila putera seorang hamba Allah meninggal dunia, Allah pun berfirman pada malaikat-Nya: Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku? Para malaikat menjawab: benar. Allah berfirman: Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya? Malaikat menjawab: benar. Allah bertanya: Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu? Malaikat menjawab: Ia memuji Engkau (alhamdulillâh) dan beristirja’ (innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn). Allah pun berfirman: Buatkan untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga dan namakan rumah itu Baitul Hamd (rumah pujian)." (HR. al-Tirmidzi dari Abu Musa al-Asy’arî ra, ia berkata hadits hasan gharib).

Kita terbiasa mengucapkan alhamdulillâh ketika mendapat nikmat, dapatkah kita mengucapkan alhamdulillâh ketika musibah menimpa kita?

Ada empat kiat yang membuat kita bisa tetap memuji Allah Ta’ala meskipun hati terasa sempit dan berat oleh deraan musibah.

1. Satu musibah yang menimpa, sebenarnya mengingatkan kita ribuan nikmat masa lalu yang tidak terpikirkan atau belum sempat disyukuri. Maka renungkanlah nikmat itu dan ucapkanlah alhamdulillâh untuk setiap nikmat yang berhasil kita pikirkan.

Misalnya, seseorang yang mengalami kecelakaan sehingga jari kelingking kaki kirinya patah. Kecelakaan itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya yang ke- 50.
Ini berarti sudah 50 tahun jari kelingking kaki kiri itu tidak patah. Jika untuk setiap detik sehatnya jari kelingking itu ia harus berterima kasih kepada Allah dan mengucapkan alhamdulillâh maka ia seharusnya mengucapkan alhamdulillâh di hari patahnya jari kelingking kaki kiri itu sebanyak
50 X 365 X 24 X 60 X 60 = 1.576.800.000 kali.

2. Satu musibah datang bersamaan dengan ribuan nikmat. Renungkanlah ribuan nikmat yang datang bersama dengan sebuah musibah itu dan ucapkanlah alhamdulillâh untuk setiap nikmat yang berhasil kita temukan.

Jari kaki kelingking kaki kari patah adalah sebuah musibah. Bukankah jari manis kaki sebelah kiri yang tidak patah adalah sebuah nikmat. Sehingga ia harus mengatakan alhamdulillâh untuk jari manis kaki sebelah kiri yang sehat. Alhamdulillâh untuk jari tengah kaki kiri yang masih sehat, alhamdulillâh untuk jari telunjuk kaki kiri, alhamdulillâh untuk jari jempol kaki kiri. Itu baru jari-jari kaki kiri yang sehat. Belum lagi jari-jari kaki kanan, tangan kiri dan kanan, ruas-ruas tulang lainnya, otot dan saraf-saraf, nafas dan jantung, pikiran, perasaan, umur, udara, sinar matahari, bumi. Bersama satu ucapan innâ lillâhi wa innâ ilahi râji’ûn ada ribuan ucapan alhamdulillâh yang seharusnya kita sebutkan.

3. Selalu ada hikmah di balik suatu musibah. Untuk menyingkapkan hikmah suatu musibah kita harus membedah musibah itu dengan ketajaman akal dan kejernihan mata hati. Satu musibah menyimpan ratusan, bahkan ribuan hikmah. Hikmah adalah nikmat yang tiada tara. Alhamdulillâh kita ucapkan untuk setiap hikmah yang datang bersama musibah.

Mangga manis yang kita makan hari ini adalah mangga kecil, mentah dan masam beberapa bulan yang lalu. Bagi orang dewasa ketika melihat mangga kecil, mentah dan asam yang ada di pohon manggga, dengan mata pengalaman, bisa mengatakan tiga bulan lagi mangga ini akan besar, masak dan manis. Pada mangga yang masam tadi sebenarnya ada mangga yang manis.

Demikian pula dengan musibah. Setiap musibah yang pahit dan perih itu selalu ada hikmah yang tersembunyi. Hikmahnya tidak hanya satu tetapi banyak. Untuk setiap satu hikmah saja ada banyak kebaikan, bagaimana dengan hikmah yang banyak, akan ada berapa kebaikankah?

"Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang sangat banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269)

Cepat atau lambat hikmah itu akan tersingkap. Ketika tersingkap hikmah itu maka berubahlah musibah menjadi nikmat.

Bagi kaum ’ârifîn, mereka yang mengenal Allah dengan ketajaman akal dan kejernihan mata hati, hikmah itu selalu terbuka bahkan sebelum terjadi musibah. Karena, setiap musibah lahir dari lautan ilmu, hikmah dan rahmat Allah Ta’ala. Jika ilmu, hikmah dan rahmat ibarat sebuah pohon maka nikmat dan musibah adalah dahan-dahannya sedangkan kebaikan adalah buahnya.

Rasûlullâh saw bersabda:
"Alangkah luar biasanya keadaan seorang mukmin. Segala keadaannya selalu baik dan hal ini hanya terjadi pada seorang mukmin. Jika kelapangan menghampirinya ia pun bersyukur maka syukur itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika kesempitan menerpanya ia pun bersabar maka kesabaran itu menjadi kebaikan baginya."
(HR. Muslim dari Shuhaib bin Sinan ra)

Sebuah kisah tentang pedagang tapai sunda (sunda: peuyeum) mudah-mudahan dapat membantu memahami maksud dari point yang ke tiga ini.

Suatu pagi seorang pedagang peuyeum memikul dua keranjang peuyeum melewati pematang sawah. Tiba-tiba gagang pemikulnya patah. Dua keranjang peuyeum pun jatuh masuk sawah. Untung belum diraih, rugi sudah pasti. Betapa sedihnya pedagang itu menyaksikan peuyeum yang bercampur air kotor sawah. Betapa ia sangat menyesali patahnya gagang pemikul peuyeum. Ia tidak jadi berangkat ke pasar.

Satu jam kemudian terdengar kabar kendaraan yang biasa ia tumpangi ke pasar mengalami kecelakaan. Semua penumpang mengalami musibah besar, kecuali pedagang peuyeum tadi. Mengapa? Karena ia tidak ikut naik mobil tersebut gara-gara gagang pemikul peuyeumnya patah. Satu jam lalu patahnya gagang pemikul peuyeum disesali habis-habisan, sejam kemudian patahnya gagang pemikul peuyeum disyukuri habis-habisan.

4. Musibah adalah cara Allah untuk melimpahkan karunia berupa shalawat, rahmat, hidayah, cinta, kebersamaan dan pahala tanpa batas kepada seorang hamba. Untuk setiap karunia ini kita ucapkan alhamdulillâh.

Tanpa musibah bagaimana mungkin maqam kesabaran dalam menanggung derita dapat ditegakkan. Padalah dalam maqam sabar ada berbagai limpahan karunia lahir dan batin tak terperikan yang Allah curahkan, di antaranya:
1. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (QS.2: 153)
2. Allah mencintai orang yang sabar (QS.3: 146)
3. Hanya orang-orang yang sabar saja yang akan mendapat pahala tak berhingga (QS.39: 10)
4. Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:157)
Nikmat apakah yang bisa menandingi kebersamaan Allah, kecintaan Allah, limpahan shalawat, rahmat, hidayah dan pahala tanpa batas dari-Nya?

Alhamdulillâh… alhamdulillâh….. alhamdulillâh…


Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.






Help | Contact Us