Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.
ZIKRULLAH
Erwin Vetriano
Rabu, 20 Mei 2009
Kategori : Manajemen Qolbu
Allah berfirman : Tidak kuciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk Ibadah, untuk memudahkan manusia mewujudkan keinginan Allah itu, Allah menurunkan Risalah (AL ISLAM) yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. Yang terdiri tiga dimensi yaitu RUKUN ISLAM (SYARIAT) , RUKUN IMAN DAN IHSAN yang oleh kalangan sufi digunakan istilah SYARIAT, HAQIQAD dan MA’RIFAT. Ketiga dimensi ini merupakan satu paket yang harus ada dalam setiap amaliah umat manusia yang beriman.
Ruh dari semua dimensi tersebut adalah ZIKRULLAH dan Zikir adalah amal para hamba Allah yang paling utama, dan ditekankan lebih dari 288 kali di dalam Al-Qur’an. Zikir merupakan amalan paling utama untuk mendapatkan keridhaan Allah, senjata paling ampuh untuk mengalahkan musuh dan perbuatan paling layak untuk memperoleh pahala. Zikir adalah bendera Islam, pembersih hati, inti ilmu agama, pelindung dari sifat munafik, ibadah paling mulia, dan kunci semua keberhasilan.
Tidak ada sama sekali pembatasan dalam methode, jumlah, atau waktu berzikir. Seperti halnya pembatasan terhadap methode yang berkaitan dengan beberapa amal wajib tertentu seperti shalat misalnya. Bahkan, Nabi saw. Bersabda ”bahwa penghuni surga hanya menyesal satu hal, yakni tidak cukup banyak mengingat Allah selama di dunia.”
Juga Sabda Rasulullah saw :
•••”Para hamba yang lebih utama derajadnya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah”.(HR. Ahmad dan Turmudzi)
Allah meyebut kata zikir dalam Al-Qur’an 288 kali lebih, dengan tekanan pada makna Mengingat Allah hampir 90%, selebihnya bermakna peringatan, mengingatkan peristiwa, atau untuk menyebut gender laki-laki (dzakara).
Bahkan seluruh ubudiyah seseorang hamba baik syariat maupun hakikat, berujung pada puncak Dzikrullah, dalam kefanaan hamba, lalu kembali ke alam nyata lagi dengan syariat zikir berupa ibadah sehari-hari kita, mulai dari ritual wirid, sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah sosial lainnya. Dan zikir menjadi ruh seluruh proses ibadah hamba.
• : ”Tegakanlah sholat untuk mengingatKU” (QS. Thaha : 14 ) Firman Allah Ta’ala. Atau hadis Nabi saw. ”Amal yang paling mulia adalah Dzikrullah)”
Dari firman Allah dan Hadis Nabi saw. Tersebut jelaslah bahwa shalat adalah sarana zikir kepada Allah sehingga shalat tanpa zikir kepada Allah didalamnya bukan shalat yang dikehendaki Allah.
Rasulullah saw. Bersabda,”Setiap sesuatu yang tidak disertai zikir kepada Allah adalah perbuatan main-main dan kesia-siaan, kecuali empat hal:
1. Suami bercanda dengan istrinya;
2. Orang yang melatih kudanya;
3. Orang yang berlatih memanah;
4. Orang yang berlatih renang.” (HR. An Nasai’)
Qadhi Abu Bakar al-’Arabi menjelaskan bahwa tak ada amal saleh yang sah tanpa zikir. Barang siapa tidak mengingat Allah di dalam hatinya ketika dia bersedekah (Shadaqah), haji, zakat, puasa dan amaliah lainnya maka tidak sempurnah amaliah tersebut.
Begitu besar dan dahsyatnya urgensi zikrullah, sampai-sampai para hamba Allah tidak diberi dimensi ruang dan waktu dalam ubudiyah zikrullah ini. Satu-satunya ibadah tanpa batas ruang, waktu dan hitungan adalah zikrullah. Sedangkan ritual wirid (wiridan) dengan jumlah tertentu, waktu tertentu, apakah sehabis sholat dan waktu khusus, adalah dalam rangka memasuki Wilayah Tembus Batas Zikir itu sendiri. Karena itu dilatih dengan jumlah angka, hitungan, yang memiliki interaksi dengan titik-titik gravitasi ruhani (lathoif) dan pusat-pusat gravitasi alam semesta dunia maupun akhirat. Lalu disiplin penting tarbiyah Ruhiyah (pendidikan ruhani) dalam ritual zikir dari seorang Mursyid yang mutasil (mempunyai silsilah keguruan) sampai kepada Rasulullah dan yang telah dianugerahi ”wilayah” (kewalian) dalam zikrullah dalam keparipurnaan kehambaannya, hingga diberi wewenang oleh Allah untuk membimbing agar ummat mencapai apa yang telah diraihnya.
Karena itu Ibnu Athaillah menegaskan dalam al-Hikam. Bahwa ibadah-ibadah yang berhubungan dengan hak waktu pada hamba, seperti sholat, puasa (dengan batasan waktu) bisa diqodlo bila kita ada halangan, tetapi hak kita terhadap waktu, jika berhalangan tidak bisa diqodlo, yaitu zikrullah. Ibadah yang mestinya lazim, universal dan terus menerus (da’iman abadan) sepanjang hidup kita.
Hari-hari indah bersama Allah adalah hari-hari Full zikrullah yang secara filosofis menyatu pada Asmanya Yang Agung. Allah. ”Waladzikrullahi Akbar” (Niscaya sesunguhnya zikir Allah itulah yang lebih besar (dibanding yang lainnya).
Karena waktu yang terbatas ditempuh oleh para hambaNya di dunia, haruslah menjadi waktu sepesial, waktu istimewa, dahsyat, seluruh waktu, seluruh hidupnya adalah keistimewaan dan kedahsyatan bersama Allah.
Semesta ruang dan waktu ini haruslah semesta bercahaya. CahayaNya adalah kesaksian jiwa para hambaNya dalam melihat Asma’, sifat dan Dzat dengan matahatinya dibalik semesta, lalu pancaran cahaya itu memantul dalam pandangannya ke alam semesta ini. Disinilah kita mengerti betapa kehadiran ummat ini adalah kehadiran membawa misi Risalah, yakni Risalah Rahmat Lil’alamin. Manusia zikrullah dan Ahlullah.
Sudah saatnya anda menjadi manusia bermilyar zikir, bahkan di hadapan anda ada bilyunan zikrullah yang menunggu detak jantung jiwa anda, hasrat rindu ruh anda, hamparan rahasia ma’rifat Sirr anda.
Setiap detak jantung kita adalah ni’mat Allah, setiap nafas yang keluar masuk adalah takdir anugerah Allah, setiap kedip mata dan sejuta rasa di lidah kita, bahkan ni’mat-ni’mat itu tak akan pernah bisa dihitung oleh manusia manapun. Kenapa semua itu berlalu tanpa Allah ? Sedangkan Allah berfirman bahwa hambanya yang berakal adalah
•• ”orang yang zikir Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring” (QS. Al-Imran : 191). Dan Allah juga berfirman :
•• : ”Apabila kamu telah selesai sembahyang maka dzikir Allahlah kamu baik ketika berdiri, ketika duduk maupun berbaring”. (An-Nisa’ 103). Apakah kita yang mengaku hamba Allah dan selalu mengikrarkan diri kita ”hidup dan matiku untuk Allah” dalam setiap shalat sudah mematuhi perintahNya untuk selalu mengingat dan menyebut namaNya dalam setiap waktu, keadaan dan tempat dengan lisan maupun hati. Atau semua ikrar kita ”hidup dan matiku untuk Allah” hanya seperti ucapan para munafik lainnya.
Renungkanlah!. Kita semua akan dimintai pertanggunganjawaban olehNya kelak dihari kemudian dan hanya hamba-hamba yang taat dan telah mensucikan hatinya sajalah yang berhak mendapatkan anugerah dariNya.
A’isya berkata, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Nabi saw. Selalu mengingat Allah siang dan malam. Nabi bersabda, ”Jika hatimu senantiasa mengingat Allah, maka para malaikat akan menemuimu sedemikian rupa sehingga mereka akan mengucapkan salam kepadamu di tengah jalan”
Coba anda hitung sendiri. Dalam semenit, jantung anda berdetak 80 hingga 88 kali. Dalam satu jam jantung anda berdetang 4.800 x hingga 5.280x, dalam sehari jantung anda berdetak 115.200 x hingga 126.700 x maka dalam setahun jantung anda berdetak 42.048.000 x hingga 46.252.800 x dan jika dikalikan seumur hidup anda, 80 tahun menurut ukuran alfu syahrin dalam surat al-qadr, maka terhitung detak jantung anda mencapai 3.363.840.000 x hingga 3.700.224.000 x. Bayangkan! Hitungan detak jantung yang bermilyar itu, mestinya yang dijadikan hitungan minimal bagi hitungan zikrullah kita seumur hidup manusia.
Sementara tarikan nafas kita, dalam satu menit mencapai rata-rata 16 kali. Berarti 1 Jam mencapai 960 x, dan satu hari mencapai 23.040 x setahun, 365 hari, 8.409.600 x dan mencapai seumur hidup manusia jika 80 tahun, berarti tarikan nafas kita (keluar masuk dihitung satu nafas) akan mencapai 672.768.000 x. Apakah keluar masuk nafas anda bersama Allah? Bagaimana rasanya jika nafas anda berhenti 5 menit saja? Dan bagaimana kita jika malaikat maut datang mencabut nyawa kita, sedangkan hati kita tidak dalam zikrullah, melainkan dalam keadaan selingkuh dengan dunia yang selalu hadir dalam hati dan angan yang telah diperbudak nafsu.
Siapakah yang dikaruniai Allah selalu berzikir dengan lisan, ruh, qalbu dan sirry-nya (Khafy al-Akhfa’) setiap detak jantungnya? mereka adalah Aulia Allah (The Million Zikir Man). Mereka adalah orang yang dicintai Allah. Sabda Rasulullah : Anas bin Malik Ra. Mengutarakan, Rasulullah saw. Bersabda :
•• : ”Tanda cinta Allah adalah menyukai zikirullah (zikir kepada Allah). Dan tanda kebencian Allah adalah membeci zikrullah azza wajalla.”(HR.Baihaqi).
Para Aulia Allah ini juga adalah orang-orang yang selalu diingat oleh Allah
••• :”Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingatmu” (QS. Al-Baqarah : 152)
Para Ahli zikir adalah para kekasih Allah yang karena merekalah Allah belum akan menurunkan Kiamat sebagai mana sabda Rasulullah saw :
: ” Tidak akan datang hari kiamat kecuali tidak ada lagi dipermukaan bumi ini yang menyebut : Allah, Allah.(HR. Muslim).
Dikesempatan lain Allah menyebut orang yang membeku hatinya (menututup diri) dari zikir Allah sebagai orang yang celaka dan dalam kesesatan yang nyata :
• : ”Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk zikir Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (az-Zumar :22)
Mari kita renungkan diri kita dengan jujur, apakah kita sudah termasuk orang yang selalu berzikir kepada Allah, atau kita termasuk orang yang membatu hatinya dan dalam kesesatan yang nyata?.
Berapa menit, berapa jam, berapa tarikan nafas yang kita gunakan untuk berzikir, bandingkan dengan beberapa menit, berapa jam, berapa tarikan nafas yang tidak anda gunakan untuk zikrullah atau bermain-main dalam kesesatan bersama nafsu.
Namun kita jangan berputus asa dari rahmat Allah. Minta tolonglah kepadaNya sebagaimana yang dimohonkan oleh rasulullah ”Allahuma aina ala zikrika wasyukrika wa husni ibadatik” (Ya Allah karuniakan aku menjadi orang yang selalu berzikir kepadamu, bersyukur kepadamu dan beribadah dengan baik) (HR.Abu Daud). Tanpa pertolongan Allah kita tidak akan menjadi orang yang selalu zikir Allah, tidak akan bisa menjadi orang yang pandai bersyukur dan dapat melaksanakan ibadah terbaik untuk Allah.
Dan orang yang lalai dari Zikir kepada Allah jangan dijadikan ikutan seperti Firman Allah swt. “Dan janganlah engkau turut orang yang KAMI lalaikan hatinya dari mengingat KAMI dan diikutinya hawa nafsunya, dan pekerjaannya meliwati batas.” (Al-Kahfi 28). Jauhi majelis orang-orang yang membenci zikrullah dan jangan jadikan penuntun orang-orang yang tidak zikir Allah, karena mereka akan menarik anda kedalam kelompok orang-orang yang dimurkai Allah.
Klik Button
'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.
Share To Facebook