Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.
Agar Anda Tidak Merasa Bosan
Asfa Davy Bya
Sabtu, 02 Mei 2009
Kategori : Akidah dan Akhlaq
Waktu kecil saya suka heran melihat bunda yang secara berkala mendesain ulang posisi kamar tidur kami, atau posisi ruang tamu kami. Yang saya rasakan ketika itu hanyalah suasana segar di kamar tidur atau di ruang tamu, padahal dari segi luas ruang, tidak berubah. Ternyata perasaan segar itu muncul karena kami menemukan suasana baru. Setelah menikah dan memiliki rumah sendiri, saya sadar bahwa apa yang dilakukan oleh bunda bermanfaat buat mencegah kejemuan. Kita membutuhkan variasi dalam hidup ini, sebab betapa pun mengasyikkannya dan menariknya kerja yang dilakukan secara terus-menerus untuk masa waktu yang cukup lama tetap pada akhirnya akan membuat jiwa Anda jemu dan tidak semangat lagi.
Saya bersama istri lalu melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan bunda. Kami juga menetapkan jadwal yang variatif menghadapi kejemuan sejak usia perkawinan memasuki tahun ketiga. Pada akhir pekan, kami rencanakan untuk pergi bersama ke tempat jual tanaman di kawasan Serpong atau Parung, melihat aneka warna bunga dan indahnya tanaman ciptaan Allah swt. Atau kami pergi ke Puncak di pagi hari hanya untuk menikmati pancake lalu pulang di sore hari. Kalau sudah bosan berkutat di depan laptop dan tumpukan buku, saya kerap mengajak anak-anak bermain golf mini, atau bermain sepakbola virtual via play station. Atau kami sekeluarga menghabiskan seharian penuh untuk membersihkan rumah dengan pembagian tugas yang telah ditetapkan. Pokoknya kami menciptakan hari-hari yang terus bergulir ini dengan sesuatu yang bermanfaat.
Nagla Mahfudz dalam bukunya Asraar az-Zawaj an-Naajih (Mengalah untuk Menang), mengatakan, “Tentu saja kebiasaan dan rutinitas dapat membunuh kerinduan suami terhadap istri. Untuk itu, harus ada dinamika agar tak ada kebosanan rumah tangga. Juga agar hubungan intim tidak semakin hambar dan hanya dianggap sebatas kewajiban. Yang perlu diperhatian di sini, kita tidak harus membahas kejenuhan seksual secara berlebihan. Toh, kehidupan rumah tangga bisa dinamis dan tetap menyenangkan. Kejenuhan temporal dalam rumah tangga tidaklah membawa masalah apa pun. Tapi kalau ia semakin bertambah dan hampir menjadi fenomena, maka tak ada jalan lain kecuali mengubah segala sesuatunya; baik suasana, kondisi, dekorasi kamar tidur, dan lainnya dengan menambah sejumlah bunga, lampu, cermin, mengganti seprei, maupun mengubah kain bantal.”
Karena itu, mengubah waktu dan tempat hubungan intim juga efektif dalam menghilangkan resa jenuh seperti mengubahnya di pagi hari, atau tidak dilakukan di kamar tidur. Para ahli bahkan mengajurkan pasangan suami istri agar saling menjauh sementara hingga kembali timbul rasa rindu. Misalnya, sang istri berkunjung ke rumah orang tuanya beberapa hari, atau suami pergi tugas ke luar kota, atau tidur pisah ranjang, dan lain-lain. Semua itu tentu jauh lebih baik daripada suami melakukan hubungan di luar pernikahan, atau kaum istri tenggelam dalam pikiran-pikiran negatif dan mengarahkan perhatiannya hanya kepada anak-anak atau pekerjaan.
Dalam hubungannya dengan pekerjaan, cuti tahunan menjadi alat yang efektif untuk mengusir kejenuhan setelah bekerja setahun penuh. Sarana ini ternyata tidak berjalan efektif di tengah-tengah masyarakat yang memiliki etos kerja yang berlebihan. Bukankah banyak pelaku bisnis atau pekerja sering lupa mengambil hak cutinya karena asyik memacu adrenalinnya guna memenuhi ambisi pribadinya di bidang pekerjaan. Lihatlah bagaimana etos kerja bangsa Jepang yang sangat kuat itu mengakibatkan mereka menemukan penyakit baru, karoshi namanya. Sebuah istilah Jepang terhadap kematian mendadak akibat terlalu banyak bekerja
Lihat pula dengan Cina, Negara besar yang kegiatan ekonomi dan bisnisnya sedang menggeliat. Dalam pengejarannya terhadap kebahagiaan, banyak orang Cina menjadi terobsesi untuk memperoleh pekerjaan yang terbaik, mengirim anak-anaknya untuk belajar di universitas-universitas yang paling bergengsi, membeli perkakas yang paling baik dan tinggal di apartemen yang paling eksklusif. Ironisnya, beberapa dari orang Cina yang berhasil adalah orang-orang yang paling tidak merasa aman dan mengalami kesulitan dalam waktu luang.
Pada tahun 2003, Xiao Zeping, psikiater kepala di Shanghai Medical Health Center, berkata kepada reporter Globe and Mail: \"Mereka bekerja tanpa istirahat dan cuti, dan mereka merasa sangat letih sehingga mereka kehilangan hampir semua minat hidup. Mereka kaya, tetapi tidak memperhatikan kesehatan mereka. Di Shanghai, setiap orang terpusat pada pekerjaan dan gaji. Hal itu yang menentukan apakah Anda berhasil atau tidak. Jika seseorang kehilangan pekerjaannya, dia merasa dirinya tidak baik. Hal itu sangat memalukan.\"
Ternyata uang dan harta benda tidak cukup penting untuk ditempatkan di atas segala sesuatu. Jika Anda mengarah ke gaya hidup yang membosankan karena ingin memperoleh uang banyak, Anda akan tetap miskin, seberapa pun yang Anda peroleh. Di Amerika Utara, kebosanan ternyata menempati urutan teratas yang mengakibatkan beberapa kekacauan psikologis dan masalah-masalah fisik. Penulis dan pengkritik Amerika kelahiran Inggris, W.H. Auden mengatakan, “Sebagian besar orang Amerika sangat giat mengerjakan sesuatu yang membosankan mereka. Bahkan seorang yang kaya berpikir dia harus masuk kantor setiap hari. Bukan karena dia menyukainya, tetapi karena dia tidak dapat memikirkan sesuatu yang lain untuk dikerjakan.”
Karena itu, isilah hari-hari kita dengan berbagai macam kegiatan yang variatif, baik olahraga maupun sosial. Dr. Ann McGeecopper seorang konsultan berkata, \"Bila perusahaan terlibat dalam kegiatan amal, ini merupakan sinyal bahwa pemimpin perusahaan memperhatikan lingkungan sekitarnya, ada yang lebih berharga dalam hidup ini daripada sekadar mengejar keuntungan. Dan, kepedulian mereka adalah wujud keseimbangan kehidupan karyawan serta perusahaan.\"
Kadang kala saya merasa bahwa Allah swt sengaja membekali kita dengan rasa bosan. Sehingga bisa dijadikan sebagai pagar pembatas antara diri kita dengan masalah-masalah yang tidak baik yang kita dengar atau kita lihat. Dan rasa bosan itu merupakan benteng penghalang agar kita tak bersentuhan langsung dengan hal-hal yang tak bermanfaat itu. Yang mesti dikuatirkan bukanlah rasa bosan yang datang di tengah beragam kegiatan kita, melainkan rasa bosan yang melanda jiwa dan menguasai diri kita kemana pun kita pergi.
Jika Anda penggemar novel, bukankah ada bagian-bagian atau episode-episode yang membosankan? Bukankah di sela-sela pekerjaan Anda yang mengasyikkan sekali pun ada saat-saat di mana Anda pergi dan minum kopi di café dekat kantor? Bukankah seorang desainer memerlukan waktu jeda untuk menemukan kembali “sentuhannya” dalam berkreativitas? Bukankah jika tiba saatnya mesin mobil pun mesti “over-haul?” Yang mesti dicermati adalah, jangan sampai kita membiarkan hidup ini kosong saat kejenuhan menimpa. Sebab kekosongan pun sering kali melahirkan kebosanan; karena kosong sama dengan tidak ada. Karena kekosongan berarti tidak bergerak dan keluar dari efektivitas hidup; padahal diri manusia suka sekali dengan sesuatu yang memiliki sensasi, yang baru, dan memiliki kejutan.
Rasa bosan bagaimana pun juga merupakan bagian dari hidup kita. Kita tak akan bisa dan tidak oleh melarikan diri darinya. Yang harus dilakukan adalah belajar menghadapi dan menikmatinya dengan cara mengalihkan aktivitas Anda ke hal-hal lain yang bermanfaat dan membuat hati Anda merasa senang. Imam Syafi’i berkata, “Bila Anda tak menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat, Anda pasti akan membuat diri Anda sibuk dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.”
Sebab dengan rasa gembira itulah Anda akan mampu memahami makna dari apa yang Anda lakukan selama ini. Prof. Dr. Abdul Karim Bakkar berkata “Oleh karenanya kita harus belajar bagaimana bisa mengatasi dan menerima perkara-perkara yang membosankan sebagai suatu bagian hidup yang alami.” Maknanya adalah bagaimana kita berdamai atau bersahabat dengan rasa jemu.
Lantas apa resep jitu yang diperlukan agar Anda tak merasa bosan? Selain berupaya bersahabat dengan rasa bosan, ciptakan momen-momen penting dalam hidup Anda agar bermanfaat bagi diri Anda dan orang lain. Berbuatlah dengan tulus dan ikhlas, karena Anda akan mendapat begitu banyak pelajaran hati dari momen-momen seperti ini. Ingatlah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, \"Bahwasanya Allah tidak akan menerima sesuatu amal, melainkan amal yang dikerjakan karena ikhlas terhadap Allah semata-mata, dan menurut keridhaan-Nya.\" Hr. an-Nasa\'i.
deSA pamuLANG baRAT
dAVy bya SH
Klik Button
'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.
Share To Facebook