Beberapa tahun lalu, sehabis tausiah di sebuah pengajian ibu-ibu sebuah Taman Kanak-Kanak di Cinere, seorang ibu memberikan kepada saya beberapa lembar kertas. Apa yang tertulis dalam lembaran-lembaran itu benar-benar membuat saya terkesan. Kisahnya sederhana tetapi pesannya dalam. Saya tidak lagi memiliki lembaran-lembaran itu sekarang, tetapi apa yang tertulis di sana akan saya ceritakan kembali di sini. Lembaran-lembaran itu berisi ceritera tentang seorang ibu yang meminta anaknya belajar agama. Anaknya yang besar dengan didikan barat merasa berkeberatan karena memandang agama tidak rasional. Tetapi pada akhirya anak itu mau belajar agama dengan syarat, guru yang bakal menganjarnya harus bisa menjawab tiga pertanyaannya. Ketiga pertanyaan itu mempertanyakan kebenaran keyakinan-keyakinan agama dari sudut pandang rasio.
1. Jika benar Tuhan itu ada, coba gambarkan seperti apa Tuhan itu!
2. Jika benar takdir itu ada,berikan contoh peristiwa yang memperlihatkan adanya takdir!
3. Iblis terbuat dari api, katanya nanti ia akan dibakar di api neraka. Bagaimana mungkin yang terbuat dari api bisa menderita oleh api?
Suatu hari ibunya membawa seorang ustadz dan mempertemukannya dengan sang anak." Apakah bapak bisa menjawab tiga pertanyaan saya itu?" tanya anak tadi kepada sang ustadz. Sebelumnya Ibu telah menyampaikan perihal pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada ustadz sebagai syarat dari anaknya untuk mau belajar agama." Ya." jawab ustadz singkat." Kalau begitu, coba bapak jawab." minta anak itu. Tiba-tiba ustadz bergerak demikian cepat dan tanpa diduga oleh anak itu. Paaak!....Sebuah tamparan keras mendarat dipipinya. Anak itu terjatuh."Mengapa bapak menempeleng saya?" tanya anak itu marah sambil menahan sakit. " Itulah jawaban terhadap tiga pertanyaanmu." jawab ustadz santai. " Apa maksudnya?" tanya anak itu bertambah gusar.
"Apa yang engkau rasakan karena tamparan tadi?" tanya sang ustadz." Sakit!" jawab anak itu berang. Lalu ustadz mengeluarkan selembar kertas dan pulpen, seraya berkata," Sekarang, tolong engkau gambarkan rasa sakit yang engkau rasakan." Anak itu spontan bertanya heran," Bagaimana mungkin rasa sakit bisa digambarkan?" Mendengar perkataan anak itu ustadz pun berkata," Engkau meminta saya untuk menggambarkan Tuhan, sedangkan engkau sendiri tidak mampu menggambarkan rasa sakit yang engkau rasakan. Tuhan dapat dirasakan keberadaan-Nya, tetapi mustahil untuk dapat menggambarkan-Nya." Anak itu terdiam. Tampaknya ketidakmampuannya melukiskan rasa sakit di kertas, padahal rasa sakit itu benar-benar ia dikenali, membuat akalnya menerima ketidakmungkinan Tuhan untuk digambarkan.
" Lantas bagaimana dengan pertanyaan saya yang kedua menyangkut keberadaan takdir?" tanya anak itu serius. " Apakah engkau semalam bermimpi akan mendapatkan tamparan dari saya?" tanya ustadz." Tidak" jawab sang anak."Apakah terpikir olehmu tadi bahwa saya akan menempelengmu?" tanya ustadz lagi. " Tidak." jawab anak itu. "Apakah ada keinginanmu untuk mendapatkan tempelengan dari saya?" kembali ustadz bertanya. "Tentu tidak." jawab anak itu lagi. Sang ustadz menatap dalam kepada anak itu. "Engkau tidak bermimpi akan ditempeleng, tidak terpikir juga akan ditempeleng dan tidak punya keinginan sedikit pun untuk ditempeleng. Tetapi kenyataannya engkau mendapatkan tempelengan di hari ini. Itulah takdir." Anak itu terpesona dengan contoh yang demikian sederhana tetapi mengena.
"Bagaimana dengan pertanyaan yang terakhir mengenai Iblis." tanya anak itu.
"Terbuat dari apakah telapak tanganku ini?" tanya ustadz. "Kulit dan daging." jawab si anak. "Terbuat dari apakah pipimu itu?" tanya ustadz lagi. "Dari kulit dan daging juga." jawab anak itu. "Bagaimana mungkin kulit dan daging tanganku bisa membuat kulit dan daging pipimu merasa sakit, padahal bahan keduanya sama yang sebenarnya berasal dari tanah? Nah, meskipun Iblis terbuat dari api dan neraka pun adalah api, Iblis pasti akan merasakan penderitaan akibat api itu, jauh lebih sakit dibandingkan tempelengan yang engkau rasakan" jelas sang ustadz.
Dialog berakhir sampai di situ.
Anak itu beruntung karena dengan satu tamparan saja telah membuat ia mencapai pencerahan menyangkut hal-hal yang sangat mendasar dalam keyakinan agama. Satu tamparan menjawab tiga pertanyaan, tamparan yang membangunkan kesadaran.
Sementara itu kita di hari ini masih belum juga terbangun padahal berbagai tamparan dari yang paling pelan, sedang sampai paling keras telah mendarat di 'wajah hati kita'.
Tidak terhitung berapa kali perihnya hati kita karena kehilangan uang, barang atau bahkan sanak keluarga. Tapi tamparan itu belum juga membuat hati kita paham tentang arti 'rasa memiliki'. Siapa yang menanam rasa memiliki pasti mengetam sakinya kehilangan. Berulang kali Allah berfirman 'Lillâhi mâ fis samâwâti wa mâ fil ardh / kepunyaan Allah lah apa pun yang ada di langit dan apa pun yang ada di bumi'. Ayat al-Quran tidak banyak. Pengulangan ayat yang sama berkali-kali tentu bukan tanpa maksud. Seolah-olah Allah ingin kita mencabut rasa kepemilikan dari hati kita. Rasa kepemilikan yang berlebih-lebihan jika mengusai hati dapat menawan kita di penjara ketamakan, kekikiran dan cinta dunia.
Tidak terhitung pula betapa banyak kepiluan hati karena gagalnya rencana-rencana kita. Tetapi tamparan ini belum juga membuat kita yakin bahwa rencana Allah lah yang selalu berhasil sehingga hanya kepada-Nya kita bertawakal. Apa pun yang dikehendaki Allah itu lah yang terjadi. Rencana kita hanya akan terlaksana selama rencana itu bertepatan dengan rencana Allah. Menyempurnakan ikhtiar, bulat hati bertawakal dan kesungguhan dalam doa, itulah usaha kita. Sabar, ridha dan syukur itulah sikap kita dalam menerima ketentuan Allah.
Kegelisahan hati yang selalu menyertai kita belum juga membuat kita tertampar dan memeriksa berapa banyak nama Allah kita dengungkan di dalam hati kita. Kita justru telah memadati rongga hati kita dengan nama-nama selain Allah yang membuat hati kering dan nestapa. Padahal Allah Ta'ala berfirman "alâ bidzikrillâhi tathmainnul qulûb" hanya dengan meningat Allah saja hati menjadi tenteram.
Kita telah belajar ribuan kata dari al-Quran dan al-Sunnah untuk membangun keimanan dalam hati kita. Ruku dan sujud kita dalam shalat, dzikir dan doa yang dilantunkan lisan, derma-derma yang mengalir dari kedua tangan, telah membuat iman semakin kokoh dalam sanubari kita.
Akan tetapi kadang kala hati kita terlalu keras untuk bisa menerima kebenaran dan iman dengan cara biasa. Sebuah tamparan Tuhan lewat kesedihan, sakit atau derita sering kali lebih efektif untuk membuat orang bangun dan sadar dibanding seribu kata-kata.
Kalau ribuan tamparan sudah Tuhan berikan dan tidak juga dapat menyadarkan kita, harus dengan cara apa lagi kah Tuhan mengajarkan kita?
Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.