Welcome to Spiritual Sharing
Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.

  Listen to Content
Apakah Musibah Selalu Karena Dosa-Dosa? (bagian 3: Tamat)
Selasa, 00 0000

abah
Akidah dan Akhlaq



Download flash player terbaru untuk hasil optimal
Listen with Custom Player

III. Di Antara Sebab-Sebab Terjadinya Musibah Jika kita kaji lebih dalam al-Quran maupun al-Sunnah maka paling tidak ada empat alasan Allah menimpakan musibah pada seseorang. Dan ternyata tidak semua alasannya adalah karena dosa-dosa. 1. Musibah sebagai 'azab Azab adalah musibah yang ditimpakan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah swt dan mendustakan Rasul-Rasul-Nya. Al-Quran mencatat kaum Nabi Nuh as yang mendustakan Nabinya dihantam musibah banjir besar, kaum 'Ad yang mendustakan Nabi Hud as ditimpakan musibah angin sharshar, kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shaleh as di azab dengan teriakan yang mengguntur, kaum Sodom yang mendustakan Nabi Luth as menuai hukuman mata mereka dibutakan, dihujani batu dan bumi dibalikkan. Apakah azab juga bisa menimpa kaum muslimin? Ya, dengan dua kondisi, yaitu jika kemaksiatan telah merajalela dan tidak ada amar ma'ruf nahi munkar. "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."(QS.8:25) Dalam tasirnya Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: Allah Ta'ala memperingatkan hamba-hambanya yang mukmin tentang fitnah, yaitu cobaan dan ujian berupa segala hal yang tidak menyenangkan (bencana, celaka, sial, malang, sedih, susah, jelek, buruk, jahat) yang menimpa secara merata pada semua orang, tidak hanya menimpa pelaku-pelaku maksiat dan dosa saja. Lebih dari itu, keadaan fitnah itu sedemikian parahnya sehingga tidak dapat ditolak dan dihilangkan. Al-Imam menyitir hadits Nabi SAW yang menjelaskan fenomena tersebut, Dari Hudzaifah bin al-Yaman, dari Nabi saw, beliau saw bersabda," Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, hendaklah kamu menyuruh pada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran, jika tidak maka Allah menimpakan azab kepada kamu semua, lalu kamu berdoa, namun Dia tidak mengabulkan doa kalian."(HR.Ahmad dan al-Tirmidzi, berkata al-Tirmidzi: hadits hasan) Dari Ummu Salamah ra istri Nabi saw, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Jika kemaksiatan merajalela pada umatku, maka Allah akan meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya." Aku (Ummu Salamah) bertanya," Wahai Rasulullah, tidak adakah orang-orang saleh di tengah-tengah mereka ketika itu?" Beliau menjawab," Ada." Ummu Salamah bertanya," Bagaimana Allah memperlakukan orang-orang saleh itu?" Beliau bersabda," Mereka pun tertimpa musibah yang menimpa manusia lain. Kemudian orang saleh kembali kepada ampunan dan keridhaan Allah." (HR. Ahmad, berkata al-Haitami: Ahmad meriwayatkan dengan dua sanad, para perawi salah satu sanadnya adalah para perawi shahih) 2. Balasan / konsekuensi (Jazâ) Jika kita merusak hutan, maka musibah banjir dan longsor adalah sebuat balasan. Bila kita mengotori udara dengan asap pabrik dan asap kendaraan, maka musibah pemanasan global dan gangguan pernafasan adalah sebuah balasan. "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, yang akibatnya Allah membuat mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. 30:41) 3. Musibah sebagai peringatan (indzâr) Musibah ini diberikan kepada mukmin yang merosot keimanannya. Peringatan ini karena kasih sayang Allah swt. Seseorang yang berada dalam kesempitan rezeki, misalnya, bermunajat di malam hari agar Allah memberikannya keluasan rezeki. Shalat tahajjud ia jaga, shalat Dhuha ia pelihara, puasa sunat senin kamis tidak pernah terlewat. Sampai akhirnya Allah Ta'ala memberikan jalan keluar. Bisnisnya berkembang, karyawan bertambah, kesibukan semakin meningkat. Karena demikian sibuknya satu persatu ibadah sunahnya mulai ia tinggalkan. Shalat-shalatnya pun semakin tidak khusyu'. Seharusnya bertambahya nikmat membuat ia bertambah dekat dengan Allah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, nikmat bertambah malah membuatnya semakin jauh dari Allah. Orang ini sedang mengundang datangnya musibah. Musibah yang datang kepadanya sebagai peringatan untuk meningkatkan kembali keimanannya yang merosot itu. Bisa saja terjadi tiba-tiba ordernya menurun, piutangnya tidak dibayar, di sana sini terjadi kerugian. Akibatnya ia terlilit hutang. Dalam keadaan bangkrut tadi tidak ada yang mau menolongnya. Ketika itulah ia kembali kepada Allah untuk memohon pertolongan dengan cara memperbaiki ibadah-ibadahnya yang selama ini sudah tidak ia perhatikan. Tercapailah tujuan musibah yaitu pemberi peringatan. 4. Musibah sebagai ujian keimanan (ibtilâ) Musibah ini adalah tanda kecintaan Allah Ta'ala pada seseorang. Musibah ini diberikan kepada para Nabi yang ma'shum (terjaga dari berbuat salah) dan orang-orang saleh yang derajat nya ada di bawah mereka. Semakin tinggi derajat keimanan dan kekuatan agama seseorang justru ujian (musibah) yang menimpanya semakin berat. Dari Mush'ab bin Sa'd dari ayahnya. Ayahnya berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw," Manusia manakah yang paling berat ujiannya?" Beliau saw menjawab," Para Nabi, kemudian disusul yang derajatnya seperti mereka, lalu yang di bawahnya lagi. Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya itu kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya itu lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Senantiasa ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun." (HR. al-Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibn Majah,berkata al-Tirmidzi: hadits hasan shahih) Al-Quran mencatat dua orang Nabi as diuji dengan musibah yang tidak pernah diderita oleh siapa pun dari hamba-hamba Allah swt. Nabi Ayyub as ditimpa musibah kehilangan harta, kematian anak-anak bahkan tubuhnya terkena penyakit selama delapan belas tahun. Dosa apakah yang menjadi penyebab Nabi Ayyub as menderita. Penyebabnya bukan dosa tapi justru kuatnya keimanan. Nabi Yunus as ditimpa musibah berada dalam kegelapan yang tindih menindih. Ia ditelan ikan dan dibawa ke dasar lautan. Kegelapan perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, kegelapan malam dan kesedihan hati yang tiada tara. Musibah yang beliau derita bukan karena azab atau peringatan karena merosotnya iman, tetapi justru karena ketinggian iman. Orang-orang kafir mendapatkan musibah karena kekafirannya. Orang-orang mukmin mendapatkan musibah karena keimanannya. Dalam kehidupan dunia, musibah adalah keniscayaan Bagi kita yang penting bukan musibahnya, tetapi apa alasan Allah menimpakan musibah kepada kita. Kalau musibah itu karena azab maka segeralah bertaubat. Kalau musibah itu karena peringatan maka segeralah kembali kepada Allah. Kalau musibah itu karena ujian keimanan maka berpegangteguhlah kepada Allah.

Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.






Help | Contact Us