Welcome to Spiritual Sharing
Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.

  Listen to Content
Penghuni Surga yang Berjalan di Bumi
Selasa, 00 0000

abah
Kajian Asmaul Husna



Download flash player terbaru untuk hasil optimal
Listen with Custom Player

Makna nama al-Salam (Yang Maha Sejahtera) ialah Dia yang zat-Nya bebas dari segala cela, sifat-Nya bersih dari segala kekurangan dan perbuatan-Nya tak tersentuh keburukan sama sekali. Dengan demikian tidak ada keselamatan, keterhindaran dari aib dan keburukan kecuali bersandar pada-Nya dan bersumber dari-Nya. Demikian uraian al-Imam al-Ghazali dalam kitab Al-Maqâshid al-Asnâ fî syarh asmâ al-Husnâ. 'Ubudiyah(penghambaan) yang sempurna terhadap Allah swt melalui nama al-Salam ditegakkan melalui tiga aspek, yaitu: qalbu, lisan dan perbuatan. Penghambaan melalui qalbu diwujudkan dengan cara hati menyaksikan secara ilmu dan kasyf (penyingkapan ruhaniah) manifestasi al-Salam dalam berbagai derajat penciptaan, baik di alam material (mulk) maupun nonmaterial (malakut). Sehingga, terlihatlah dalam pandangan batinnya ketidakberdayaan seluruh mahluk dan tunduk patuhnya mereka dalam gerak dan diam mengikuti hukum dan ketentuan Allah (taslim). Hal ini menjadikan hatinya bersih dari iri, dengki, riya, 'ujub, takabur ataupun niat jelek terhadap hamba Allah lainnya, karena bahaya, celaka, suka, duka, lapang, sempit semua berpulang kepada qadha dan qadar Allah Ta'ala semata. Tidak ada kezaliman sedikit pun pada perbuatan-perbuatan Allah. Seluruh perbuatan-Nya mempesona. Dia yang mengeluarkan mahluk dari kegelapan ketiadaan ('adam/noneksistensi) menuju cahaya keberadaan (wujud/eksistensi) melalui penciptaan. Dia memakaikan jubah keindahan pada berbagai bentuk kejadian mereka. Dia menuntun mereka menempuh jalan panjang untuk berjumpa denganNya dan menganugerahkan kesejahteraan abadi dalam pertemuan dengan-Nya. Mengalirlah mutiara kesadaran akan ketakberdayaan dan harapan limpahan keselamatan ini dalam untaian 'ubudiah lisannya Allahumma antassalam waminkassalam tabarakta ya dzaljalali wal ikram (Ya Allah, Engkaulah Sang Maha Sejahtera, dari-Mu lah datangnya kesejahteraan. Maha berkah Engkau, wahai pemilik kebesaran dan kemuliaan) Tahiyyat dan salam yang selalu kita baca ketika shalat mengekspresikan kesadaran suci ini. Pada waktu mengucapkan salam ke kanan dan kiri untuk mengakhiri shalat, mengiringi ucapan Assalamu'alaikum (semoga keselamatan tercurah bagimu) tadi hendaknya kita bertekad bahwa dari kita lah pertama-tama terlihat keselamatan untuk saudara kita itu. Yaitu, ia akan aman selama-lamanya dari kejahatan kedengkian hati kita, aman dari buruk sangka kita, aman dari gunjingan dan cacian lisan kita, aman dari kezaliman tangan dan kaki kita. 'Ubudiah perbuatan dilakukan dengan cara menjaga mata, telinga, mulut, lidah, tangan dan kaki kita dari menyakiti orang lain. Bersabda Nabi saw,"Seorang muslim adalah ia yang seluruh kaum muslimin bebas dari gangguan lidah dan tangannya."(HR.Muslim dari Jabir ra). Juga dengan cara menebarkan salam. Bersabda Nabi kita saw tentang hal ini," Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman, kalian tidak beriman hingga kalian mencintai satu sama lain. Maukah aku beritahukan sesuatu yang jika kalian laksanakan maka kalian akan saling mencintai?yaitu sebarkanlah salam di antara kalian."(HR.Muslim dari Abu Hurairah ra) Orang yang sanggup mengosongkan hati dari kedengkian terhadap sesema saudaranya yang muslim adalah penghuni surga yang berjalan di muka bumi. Sebuah riwayat dari Anas bin Malik ra menceritakan hal ini. Anas berkata: Pada suatu hari kami duduk di sisi Rasulullah saw lalu beliau bersabda,"Akan muncul sekarang kepada kalian, dari lorong ini, seorang laki-laki penghun surga." Lalu muncullah seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang sedang menyeka bekas air wudhu dari dari jenggotnya, sambil tangan kirinya menenteng kedua sandalnya. Keesokan harinya, kembali Rasulullah saw mengatakan hal seperti kemarin lalu muncul orang itu lagi. Hari ketiga pun demikian. Setelah Nabi saw pergi Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash mengikuti laki-laki tersebut."Aku sedang bertengkar dengan ayahku dan aku bertekad tidak bertemu dengannya selama tiga hari. Tidak berkeberatankah engkau untuk menampungku selama tiga hari?" tanya Abdullah bin 'Amr. Laki-laki itu menjawab,"Baiklah." Berkata Anas:Maka menginaplah Abdullah di rumah laki-laki itu selama tiga hari. Selama tiga malam itu tidak terlihat laki-laki tersebut menegakkan shalat malam. Hanya saja, tiap kali ia terbangun dan membalikkan badan ia berzikir menyebut nama Allah dan bertakbir. Laki-laki itu baru bangun untuk shalat subuh. Abdullah bin 'Amr berkata,"Tapi aku tidak pernah mendengar ia berkata kecuali hanya kebaikan. Setelah berlangsung tiga malam dan aku hampir menyepelekan amalnya, aku pun berkata padanya:wahai hamba Allah, aku sebenarnya tidak sedang bertengkar dan menjauh dari ayahku, akan tetapi aku mendengar Rasulullah saw mengatakan mengenai dirimu sebanyak tiga kali. Yaitu, akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga, lalu muncullah engkau. Dan itu berulang tiga kali. Aku ingin menginap di tempatmu untuk melihat apa yang menjadi amalmu agar dapat aku tiru. Ternyata aku tidak mendapati engkau melakukan banyak amal. Lantas, apakah yang membuatmu mencapai apa yang dikatakan Rasulullah saw itu?" Lalu laki-laki tiu menjawab,"Tidak ada yang lain selain yang engkau saksikan itu. "Ketika aku meninggalkannya, ia memanggilku, kemudian berkata,"Tidak ada amalku selain yang engkau lihat, hanya saja aku sama sekali tidak punya rasa benci dan dengki terhadap kebaikan yang Allah berikan kepada seorang muslim. "Abdullah berkata,"Justru amal itu yang membuatmu mencapai tingkatan tersebut dan itu pula yang kami tidak mampu melakukanya."(HR.Ahmad)

Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.






Help | Contact Us