Khutbah Arafah KH Abdullah Gymnastiar :"Getaran Allah di Padang Arafah
Saudaraku para tamu Allah dan juga saudaraku di Tanah Air yang kali ini
atas izin Allah bisa merasakan getaran orang-orang yang bersyukur di
tanah Arafah. Inilah saat yang paling dirindukan oleh orang-orang yang
beriman, saat diundang ke tanah di mana Allah menghadapkan
hamba-hamba-Nya kepada para malaikat di hari Arafah.
Pada saat inilah Allah menjanjikan pembebasan dari api jahanam
sebanyak-banyak hamba-hamba-Nya. Dan pada hari ini Allah juga
menjanjikan diampuni lumuran dosa-dosa, dihapus aib-aib yang
menyelimuti, kerak-kerak kenistaan disingkirkan, dibukanya
lembaran-lembaran baru yang putih bersih.
Saudaraku para tamu Allah.
Begitu banyak orang yang bertawakal dan bersimpuh di hadapan Allah. Di
seluruh pelosok negeri. Mungkin di pedesaan, di lereng-lereng, maupun
di persawahan. Mereka ini mungkin siang malam bersandar kepada Allah.
Mereka tiada henti memuja Allah. Bahkan mungkin bisa jadi kedudukan
mereka lebih tinggi di sisi Allah dibanding kita yang sehari-hari
melumuri diri dengan dosa, lebih banyak dipakai memuaskan diri kita
dibanding memuaskan perintah Allah. Tapi sampai sekarang mereka belum
pernah merasakan nikmatnya jamuan Allah di Arafah ini.
Inilah saatnya kita harus merasa malu. Karena, lebih banyak orang yang
berhak wukuf di Arafah ini dibanding kita. Kita lihat orang di
keningnya berbekas dengan bekas sujud hanya bisa menangis sepanjang
hayatnya untuk bisa dijamu oleh Allah di Padang Arafah ini. Tapi, kapan
kita melakukan seperti itu?
Karena itu, saudaraku yang hadir di bumi Arafah ini, hari ini adalah hari buat kita untuk bersyukur.
• Bisa jadi kita hadir di tempat ini bukan kerena kesalehan kita.
Kehadiran kita di sini mungkin karena ridlo Allah atas orang-orang yang
kita sakiti yang mereka balas sakit hatinya dengan doa kemuliaan bagi
kita.
• Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa fakir miskin yang kita
lempar dengan uang seratus rupiah tapi mereka menerimanya dengan ridlo
dan memohon kepada Allah agar mengampuni kita.
• Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa para pembantu yang tidak
pernah kita hargai jasa baiknya tetapi mereka sabar bangun malam dan
meminta kita diberi hidayah. Mungkin kita berada di tempat ini karena
doa orang tua kita yang tiada henti-hentinya agar memiliki anak yang
saleh dan salehah, padahal begitu sering kita melukai hatinya.
• Atau, mungkin kita berada di tempat ini karena doa anak-anak kita
yang sering dikecewakan contoh buruk yang kita lakukan sehingga mereka
meminta kepada Allah agar memiliki orang tua yang saleh dan salehah.
Tentunya tiada kebaikan yang mengantar kita ke tempat ini selain
kemurahan Allah yang Maha Agung. Kita berutang banyak saudara-saudaraku
sekalian.
Baiklah saudara-saudaraku sekalian.
Tidak ada jalan bagi kita untuk menjadi sombong dan takabur dengan
jamuan Allah di Arafah ini kecuali kita harus malu dan jujur kepada
diri sendiri. Harta yang Allah titipkan kepada kita, tak jarang kita
nafkahkan sekadar sisa dari uang jajan kita. Zakat enggan kita
bayarkan. Sedekah bagi orang yang paling lusuh dengan cara yang paling
memalukan. Bahkan, kita lebih suka membelikan barang-barang yang mahal
untuk kita pamerkan kepada makhluk dari pada menafkahkan harta di jalan
Allah untuk bekal kepulangan kita. Lalu lihatlah bagaimana kita
bersujud kepada Allah. Dari 24 jam satu hari Allah memberikan waktu
kepada kita, sujud sering kita percepat. Bahkan, kalau perlu hampir
kita tidak pernah ingat kepada Allah yang Maha Agung. Di manakah letak
amal baik kita? Nikmat dari Allah tiada henti dan tiada putus.
Sedangkan pengkhianatan kita tiada henti dan tiada terputus. Entah
mengapa Allah memberi kesempatan kita berada di tanah Arafah ini?
Rasanya lebih banyak orang yang lebih layak untuk dimuliakan Allah saat
ini.
Saudara-saudaraku sekalian.
Hari ini Allah menurunkan para malaikat di sekitar tenda. Sebagian para
malaikat sudah menyaksikan aib-aib yang ada pada diri kita. Sebagian
malaikat yang lain tahu secera persis siapa diri kita, ada yang
mencatat kata-kata kita yang begitu jarang menyebut nama Allah. Lalu
mereka tahu betapa banyaknya orang yang terluka hatinya, tercabik-cabik
perasaannya. Allah maha tahu fitnah yang tersebar karena lisan kita
selama ini, berapa banyak orang yang terjerumus ke dalam maksiat karena
kita yang menunjukkannya. Di antara malaikat yang hadir saat ini ada
yang menyaksikan kita mendekati zina dengan mata kita, dengan lisan
kita, karena tiada yang tersembunyi bagi Allah.
Sesungguhnya hari ini adalah hari yang paling malu bagi kita. Orang
busuk seperti kita ini diberi kesempatan berada di tempat mulia, bahkan
amal-amal yang paling tidak disukai Allah kita pun sering melakukannya.
Kesombongan, ketakaburan adalah amal yang membuat iblis dilaknat oleh
Allah selamanya. Tidak akan pernah selamat masuk surga orang yang di
dalam hatinya ada takabur walau sebesar biji zarah.
Lihatlah apa yang Allah titipkan bagi jalan kesombongan bagi kita. Otak
kita dicerdaskan sedikit oleh Allah. Kita diberi kesempatan sekolah,
kesempatan kuliah. Namun malah membuat kita jadi petentang-petenteng
menganggap rendah orang tua kita yang pendidikannya tidak setinggi
kita. Menganggap rendah pembantu kita yang pendidikannya tidak setinggi
kita. Menganggap rendah orang lain yang tidak pernah mengenyam
pendidikan setinggi kita. Padahal, demi Allah, saudara-saudaraku, otak
ini adalah milik Allah.
Jikalau Allah mengambil beberapa bagian saja, niscaya kita tidak bisa
mengingat apa pun. Sungguh! Gelar, pangkat adalah lambang kebodohan
bagi orang-orang yang takabur. Malu kita ini mengapa diberi otak yang
sulit mengenal Allah. Padahal, otak kita ini tunduk mengejar keagungan
Allah. Kita diberikan harta yang cukup. Tapi kita sering tidak
mempedulikan dari mana harta itu kita dapatkan. Yang haram kita ambil,
hak orang lain kita tahan. Zakat lupa kita bayarkan.
Kita lumuri diri kita dengan kenistaan. Naudzubilah min dzalik . Tapi
kita bangga dengan kendaraan yang mewah, dengan rumah yang megah,
dengan perhiasan. Padahal, sungguh, semua itu adalah sekadar titipan
Allah, yang Allah juga berikan kepada makhluk-makhluk nista lainnya.
Para penjahat, para pelacur, penzina, orang-orang yang durjana diberi
dunia oleh Allah. Karena dunia ini bukan tanda kemuliaan bagi
seseorang. Dunia adalah fitnah, cobaan bagi manusia. Sungguh malang
bagi orang yang takabur dengan tempelan duniawi padahal Allah
menghinakan seseorang dengan duniawi itu sendiri.
Saudaraku-saudaraku sekalian.
Waspadalah sepulang dari tempat ini. Haji yang mabrur adalah haji yang
merasa malu kepada Allah. Allah memberikan nikmat tiada henti. Kita
jarang mensyukurinya bahkan kita mengkhianatinya. Allah yang Maha
Agung, Allah yang Maha Perkasa, memberikan kesempatan kali ini kepada
kita untuk mengubah sisa umur kita. Mungkin, mungkin kali ini adalah
yang terakhir kali kita berada di tanah Arafah ini. Tidak ada jaminan
kita tahun depan bertemu kembali di tempat ini. Tanah yang kita duduki
ini akan menjadi saksi di akhirat nanti,
Kita berangkat mengeluarkan harta, waktu, dan tenaga. Kita lalui jalan
berjam-jam sampai tempat ini, tapi nikmat sekali. Itulah nikmat yang
datang dari Allah. Nikmat adalah pengorbanan. Rasululah saw mulia bukan
karena apa yang dimilikinya, tapi karena pengorbanannya untuk umat.
Harta yang dikorbankan, tenaga yang dikorbankan, waktu yang
dikorbankan, perhatian yang dikorbankan, demi kemaslahatan umat.
Sepulang dari sini tidak pernah akan bahagia kecuali orang yang paling
menikmati berkurban untuk orang lain. Yakinkanlah bahwa apa pun yang
kita miliki agar bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi hamba Allah.
Sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak manfaatnya. Saudaraku,
percayalah bahwa kita tidak akan bahagia dengan mengumpulkan uang.
Justru kebahagian datang dengan menafkahkan uang. Kita tidak bahagia
dengan ingin ditolong orang lain. Kita bahagia justru dengan menolong
orang lain.
Kita tidak akan bahagia dengan dihormati orang lain, kebagaian hati
kita dengan menghargai orang lain. Jadikanlah diri kita menjadi orang
yang tidak pernah berharap apa pun selain dari Allah. Itulah kebahagian
yang awal dari pelajaran kita. Yang kedua, ingatlah baik-baik. Kain
ihram yang kita pakai ini, ternyata inilah yang menemani kita saat
pulang nanti. Tidaklah harta, tidak pangkat, dan juga tidak jabatan.
Semua itu adalah topeng sejenak saja yang tidak berharga sama sekali,
kecuali penyangdangnya memiliki rasa syukur dan takwa kepada Allah.
Saudaraku, sepulang dari tempat ini pastikan jangan sembunyi di balik
jabatan. Jangan bersembunyi di balik penampilan yang bagus, jangan
bersembunyi di balik rumah yang megah, jangan bersembunyi di balik
gelar yang berenteng. Tapi bersembunyilah di balik Allah. Harta,
pangkat, dan jabatan tidaklah berharga kecuali orang yang bertakwa
kepada-Nya. Sekuat-kuatnya jangan ubah yang Allah titipkan ini menjadi
jalan kesombongan kita. Tiada yang dimuliakan oleh Allah, tiada satu
pun yang diangkat derajatnya oleh Allah kecuali orang-orang yang
tawadhu. Tiada seorang pun yang tawadhu di antara kamu semata-mata
karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya. Oleh karena
itu, sepulang dari sini pastikanlah menjadi orang yang paling rendah
hati, yang tidak akan memamerkan topeng seperti ini. Kecuali, insya
Allah, kemuliaan akhlak yang menjadi andalan bekal kepulangan dan
kemuliaannya.
Dan yang ketiga, saudaraku sekalian, sepulang dari haji ini ingatlah
baik-baik bahwa ternyata Allah menciptakan haji dengan pertemuan dari
segala bangsa. Kulit hitam, mata sipit, yang tinggi, yang buruk, yang
cacat; mereka semua adalah saudara kita. Terkadang kita merasa saudara
karena darah, persaudaraan karena tempat, persaudaraan karena bangsa.
Tapi kita lihat di sini, saudara kita begitu banyak. Pepatah mengatakan
satu musuh sudah mempersempit kehidupan kita, tapi memperbanyak teman
tidak akan pernah cukup. Sebab, memperbanyak teman adalah memperbanyak
saudara.
Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara. Orang-orang yang
merasakan banyak saudara hidupnya akan lebih ringan. Kita berbelanja
dengan harga yang mahal, kita bersyukur karena bisa menafkahi pedagang
yang masih saudara kita sendiri. Kita naik kendaraan umum dengan
membayar kelebihan, kita bahagia karena sudah memberikan bekal bagi
keluarga keturunan para sopir saudara kita sendiri. Kita mendidik orang
lain sehingga maju namun tidak berterima kasih tidak apa-apa karena
mereka adalah saudara kita sendiri. Semakin banyak yang bisa kita
bantu, insya Allah semakin berbahagia dan ringan hidup kita ini.
Dan yang terakhir ingatlah baik-baik.
Hari ini adalah penutup lembaran lama kita. Sudah terlalu lama hidup
kita gunakan untuk mengkhianati Allah. Sudah terlalu banyak napas kita
diisi lalai pada Allah. Sudah terlalu banyak keringat kita terkuras
untuk menzalimi kebenaran, sudah terlalu banyak harta yang kita
nafkahkan tidak di jalan Allah.
Saudaraku sekalian, mau ke mana lagi. Hidup hanya sekali dan sebentar.
Esok lusa mungkin malaikat maut sudah ada di hadapan kita. Pastikan
mulai saat ini, tekadkan dalam hati kita, ya Allah tiada tujuan dalam
hidup kami selain Engkau. Tiada yang kami tuju selain pulang kepada-Mu,
ya Allah. Dunia pasti kami tinggalkan, harta kami tinggalkan, keluarga
kami tinggalkan. Kami ingin bisa berjumpa dengan-Mu, ya Allah.
Tuntun dengan amal yang bisa membuat berjumpa dengan-Mu, ya Allah.
Tingkatkan kepada kami segala bekal yang bisa membuat kami berjumpa
dengan-Mu, ya Allah. Karuniakan segala nikmat yang bisa membuat kami
bisa mensyukuri agar kami bisa berjumpa dengan-Mu. Bebaskan kami dari
setiap harta dan kesibukan apa pun yang tidak bisa membuat kami
berjumpa dengan-Mu. Barang siapa yang merindukan berjumpa dengan Allah,
niscaya hari-hari yang dinanti adalah hari-hari pertemuan dengan Allah.
Hari-hari yang diisi dengan bekal untuk pulang.
Hidup di dunia adalah kesenangan yang menipu sejenak saja
__
" />
Getaran Allah di Padang Arafah
Khutbah Arafah KH Abdullah Gymnastiar :"Getaran Allah di Padang Arafah
Saudaraku para tamu Allah dan juga saudaraku di Tanah Air yang kali ini
atas izin Allah bisa merasakan getaran orang-orang yang bersyukur di
tanah Arafah. Inilah saat yang paling dirindukan oleh orang-orang yang
beriman, saat diundang ke tanah di mana Allah menghadapkan
hamba-hamba-Nya kepada para malaikat di hari Arafah.
Pada saat inilah Allah menjanjikan pembebasan dari api jahanam
sebanyak-banyak hamba-hamba-Nya. Dan pada hari ini Allah juga
menjanjikan diampuni lumuran dosa-dosa, dihapus aib-aib yang
menyelimuti, kerak-kerak kenistaan disingkirkan, dibukanya
lembaran-lembaran baru yang putih bersih.
Saudaraku para tamu Allah.
Begitu banyak orang yang bertawakal dan bersimpuh di hadapan Allah. Di
seluruh pelosok negeri. Mungkin di pedesaan, di lereng-lereng, maupun
di persawahan. Mereka ini mungkin siang malam bersandar kepada Allah.
Mereka tiada henti memuja Allah. Bahkan mungkin bisa jadi kedudukan
mereka lebih tinggi di sisi Allah dibanding kita yang sehari-hari
melumuri diri dengan dosa, lebih banyak dipakai memuaskan diri kita
dibanding memuaskan perintah Allah. Tapi sampai sekarang mereka belum
pernah merasakan nikmatnya jamuan Allah di Arafah ini.
Inilah saatnya kita harus merasa malu. Karena, lebih banyak orang yang
berhak wukuf di Arafah ini dibanding kita. Kita lihat orang di
keningnya berbekas dengan bekas sujud hanya bisa menangis sepanjang
hayatnya untuk bisa dijamu oleh Allah di Padang Arafah ini. Tapi, kapan
kita melakukan seperti itu?
Karena itu, saudaraku yang hadir di bumi Arafah ini, hari ini adalah hari buat kita untuk bersyukur.
• Bisa jadi kita hadir di tempat ini bukan kerena kesalehan kita.
Kehadiran kita di sini mungkin karena ridlo Allah atas orang-orang yang
kita sakiti yang mereka balas sakit hatinya dengan doa kemuliaan bagi
kita.
• Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa fakir miskin yang kita
lempar dengan uang seratus rupiah tapi mereka menerimanya dengan ridlo
dan memohon kepada Allah agar mengampuni kita.
• Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa para pembantu yang tidak
pernah kita hargai jasa baiknya tetapi mereka sabar bangun malam dan
meminta kita diberi hidayah. Mungkin kita berada di tempat ini karena
doa orang tua kita yang tiada henti-hentinya agar memiliki anak yang
saleh dan salehah, padahal begitu sering kita melukai hatinya.
• Atau, mungkin kita berada di tempat ini karena doa anak-anak kita
yang sering dikecewakan contoh buruk yang kita lakukan sehingga mereka
meminta kepada Allah agar memiliki orang tua yang saleh dan salehah.
Tentunya tiada kebaikan yang mengantar kita ke tempat ini selain
kemurahan Allah yang Maha Agung. Kita berutang banyak saudara-saudaraku
sekalian.
Baiklah saudara-saudaraku sekalian.
Tidak ada jalan bagi kita untuk menjadi sombong dan takabur dengan
jamuan Allah di Arafah ini kecuali kita harus malu dan jujur kepada
diri sendiri. Harta yang Allah titipkan kepada kita, tak jarang kita
nafkahkan sekadar sisa dari uang jajan kita. Zakat enggan kita
bayarkan. Sedekah bagi orang yang paling lusuh dengan cara yang paling
memalukan. Bahkan, kita lebih suka membelikan barang-barang yang mahal
untuk kita pamerkan kepada makhluk dari pada menafkahkan harta di jalan
Allah untuk bekal kepulangan kita. Lalu lihatlah bagaimana kita
bersujud kepada Allah. Dari 24 jam satu hari Allah memberikan waktu
kepada kita, sujud sering kita percepat. Bahkan, kalau perlu hampir
kita tidak pernah ingat kepada Allah yang Maha Agung. Di manakah letak
amal baik kita? Nikmat dari Allah tiada henti dan tiada putus.
Sedangkan pengkhianatan kita tiada henti dan tiada terputus. Entah
mengapa Allah memberi kesempatan kita berada di tanah Arafah ini?
Rasanya lebih banyak orang yang lebih layak untuk dimuliakan Allah saat
ini.
Saudara-saudaraku sekalian.
Hari ini Allah menurunkan para malaikat di sekitar tenda. Sebagian para
malaikat sudah menyaksikan aib-aib yang ada pada diri kita. Sebagian
malaikat yang lain tahu secera persis siapa diri kita, ada yang
mencatat kata-kata kita yang begitu jarang menyebut nama Allah. Lalu
mereka tahu betapa banyaknya orang yang terluka hatinya, tercabik-cabik
perasaannya. Allah maha tahu fitnah yang tersebar karena lisan kita
selama ini, berapa banyak orang yang terjerumus ke dalam maksiat karena
kita yang menunjukkannya. Di antara malaikat yang hadir saat ini ada
yang menyaksikan kita mendekati zina dengan mata kita, dengan lisan
kita, karena tiada yang tersembunyi bagi Allah.
Sesungguhnya hari ini adalah hari yang paling malu bagi kita. Orang
busuk seperti kita ini diberi kesempatan berada di tempat mulia, bahkan
amal-amal yang paling tidak disukai Allah kita pun sering melakukannya.
Kesombongan, ketakaburan adalah amal yang membuat iblis dilaknat oleh
Allah selamanya. Tidak akan pernah selamat masuk surga orang yang di
dalam hatinya ada takabur walau sebesar biji zarah.
Lihatlah apa yang Allah titipkan bagi jalan kesombongan bagi kita. Otak
kita dicerdaskan sedikit oleh Allah. Kita diberi kesempatan sekolah,
kesempatan kuliah. Namun malah membuat kita jadi petentang-petenteng
menganggap rendah orang tua kita yang pendidikannya tidak setinggi
kita. Menganggap rendah pembantu kita yang pendidikannya tidak setinggi
kita. Menganggap rendah orang lain yang tidak pernah mengenyam
pendidikan setinggi kita. Padahal, demi Allah, saudara-saudaraku, otak
ini adalah milik Allah.
Jikalau Allah mengambil beberapa bagian saja, niscaya kita tidak bisa
mengingat apa pun. Sungguh! Gelar, pangkat adalah lambang kebodohan
bagi orang-orang yang takabur. Malu kita ini mengapa diberi otak yang
sulit mengenal Allah. Padahal, otak kita ini tunduk mengejar keagungan
Allah. Kita diberikan harta yang cukup. Tapi kita sering tidak
mempedulikan dari mana harta itu kita dapatkan. Yang haram kita ambil,
hak orang lain kita tahan. Zakat lupa kita bayarkan.
Kita lumuri diri kita dengan kenistaan. Naudzubilah min dzalik . Tapi
kita bangga dengan kendaraan yang mewah, dengan rumah yang megah,
dengan perhiasan. Padahal, sungguh, semua itu adalah sekadar titipan
Allah, yang Allah juga berikan kepada makhluk-makhluk nista lainnya.
Para penjahat, para pelacur, penzina, orang-orang yang durjana diberi
dunia oleh Allah. Karena dunia ini bukan tanda kemuliaan bagi
seseorang. Dunia adalah fitnah, cobaan bagi manusia. Sungguh malang
bagi orang yang takabur dengan tempelan duniawi padahal Allah
menghinakan seseorang dengan duniawi itu sendiri.
Saudaraku-saudaraku sekalian.
Waspadalah sepulang dari tempat ini. Haji yang mabrur adalah haji yang
merasa malu kepada Allah. Allah memberikan nikmat tiada henti. Kita
jarang mensyukurinya bahkan kita mengkhianatinya. Allah yang Maha
Agung, Allah yang Maha Perkasa, memberikan kesempatan kali ini kepada
kita untuk mengubah sisa umur kita. Mungkin, mungkin kali ini adalah
yang terakhir kali kita berada di tanah Arafah ini. Tidak ada jaminan
kita tahun depan bertemu kembali di tempat ini. Tanah yang kita duduki
ini akan menjadi saksi di akhirat nanti,
Kita berangkat mengeluarkan harta, waktu, dan tenaga. Kita lalui jalan
berjam-jam sampai tempat ini, tapi nikmat sekali. Itulah nikmat yang
datang dari Allah. Nikmat adalah pengorbanan. Rasululah saw mulia bukan
karena apa yang dimilikinya, tapi karena pengorbanannya untuk umat.
Harta yang dikorbankan, tenaga yang dikorbankan, waktu yang
dikorbankan, perhatian yang dikorbankan, demi kemaslahatan umat.
Sepulang dari sini tidak pernah akan bahagia kecuali orang yang paling
menikmati berkurban untuk orang lain. Yakinkanlah bahwa apa pun yang
kita miliki agar bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi hamba Allah.
Sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak manfaatnya. Saudaraku,
percayalah bahwa kita tidak akan bahagia dengan mengumpulkan uang.
Justru kebahagian datang dengan menafkahkan uang. Kita tidak bahagia
dengan ingin ditolong orang lain. Kita bahagia justru dengan menolong
orang lain.
Kita tidak akan bahagia dengan dihormati orang lain, kebagaian hati
kita dengan menghargai orang lain. Jadikanlah diri kita menjadi orang
yang tidak pernah berharap apa pun selain dari Allah. Itulah kebahagian
yang awal dari pelajaran kita. Yang kedua, ingatlah baik-baik. Kain
ihram yang kita pakai ini, ternyata inilah yang menemani kita saat
pulang nanti. Tidaklah harta, tidak pangkat, dan juga tidak jabatan.
Semua itu adalah topeng sejenak saja yang tidak berharga sama sekali,
kecuali penyangdangnya memiliki rasa syukur dan takwa kepada Allah.
Saudaraku, sepulang dari tempat ini pastikan jangan sembunyi di balik
jabatan. Jangan bersembunyi di balik penampilan yang bagus, jangan
bersembunyi di balik rumah yang megah, jangan bersembunyi di balik
gelar yang berenteng. Tapi bersembunyilah di balik Allah. Harta,
pangkat, dan jabatan tidaklah berharga kecuali orang yang bertakwa
kepada-Nya. Sekuat-kuatnya jangan ubah yang Allah titipkan ini menjadi
jalan kesombongan kita. Tiada yang dimuliakan oleh Allah, tiada satu
pun yang diangkat derajatnya oleh Allah kecuali orang-orang yang
tawadhu. Tiada seorang pun yang tawadhu di antara kamu semata-mata
karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya. Oleh karena
itu, sepulang dari sini pastikanlah menjadi orang yang paling rendah
hati, yang tidak akan memamerkan topeng seperti ini. Kecuali, insya
Allah, kemuliaan akhlak yang menjadi andalan bekal kepulangan dan
kemuliaannya.
Dan yang ketiga, saudaraku sekalian, sepulang dari haji ini ingatlah
baik-baik bahwa ternyata Allah menciptakan haji dengan pertemuan dari
segala bangsa. Kulit hitam, mata sipit, yang tinggi, yang buruk, yang
cacat; mereka semua adalah saudara kita. Terkadang kita merasa saudara
karena darah, persaudaraan karena tempat, persaudaraan karena bangsa.
Tapi kita lihat di sini, saudara kita begitu banyak. Pepatah mengatakan
satu musuh sudah mempersempit kehidupan kita, tapi memperbanyak teman
tidak akan pernah cukup. Sebab, memperbanyak teman adalah memperbanyak
saudara.
Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara. Orang-orang yang
merasakan banyak saudara hidupnya akan lebih ringan. Kita berbelanja
dengan harga yang mahal, kita bersyukur karena bisa menafkahi pedagang
yang masih saudara kita sendiri. Kita naik kendaraan umum dengan
membayar kelebihan, kita bahagia karena sudah memberikan bekal bagi
keluarga keturunan para sopir saudara kita sendiri. Kita mendidik orang
lain sehingga maju namun tidak berterima kasih tidak apa-apa karena
mereka adalah saudara kita sendiri. Semakin banyak yang bisa kita
bantu, insya Allah semakin berbahagia dan ringan hidup kita ini.
Dan yang terakhir ingatlah baik-baik.
Hari ini adalah penutup lembaran lama kita. Sudah terlalu lama hidup
kita gunakan untuk mengkhianati Allah. Sudah terlalu banyak napas kita
diisi lalai pada Allah. Sudah terlalu banyak keringat kita terkuras
untuk menzalimi kebenaran, sudah terlalu banyak harta yang kita
nafkahkan tidak di jalan Allah.
Saudaraku sekalian, mau ke mana lagi. Hidup hanya sekali dan sebentar.
Esok lusa mungkin malaikat maut sudah ada di hadapan kita. Pastikan
mulai saat ini, tekadkan dalam hati kita, ya Allah tiada tujuan dalam
hidup kami selain Engkau. Tiada yang kami tuju selain pulang kepada-Mu,
ya Allah. Dunia pasti kami tinggalkan, harta kami tinggalkan, keluarga
kami tinggalkan. Kami ingin bisa berjumpa dengan-Mu, ya Allah.
Tuntun dengan amal yang bisa membuat berjumpa dengan-Mu, ya Allah.
Tingkatkan kepada kami segala bekal yang bisa membuat kami berjumpa
dengan-Mu, ya Allah. Karuniakan segala nikmat yang bisa membuat kami
bisa mensyukuri agar kami bisa berjumpa dengan-Mu. Bebaskan kami dari
setiap harta dan kesibukan apa pun yang tidak bisa membuat kami
berjumpa dengan-Mu. Barang siapa yang merindukan berjumpa dengan Allah,
niscaya hari-hari yang dinanti adalah hari-hari pertemuan dengan Allah.
Hari-hari yang diisi dengan bekal untuk pulang.
Hidup di dunia adalah kesenangan yang menipu sejenak saja
__
Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.