Welcome to Spiritual Sharing
Spiritual Sharing helps you connect and share with the people in your life.

  Listen to Content
Mutiara Istighfar ( Prof. Quraish Shihab )
Selasa, 00 0000

yan
Petikan Hikmah



Download flash player terbaru untuk hasil optimal
Listen with Custom Player

Setiap manusia tidak akan pernah lepas dari "dosa", baik kepada sesama maupun Khaliqnya. Menyadari akan sisi kemanusiaan itu, Islam menegaskan dalam ajarannya, "Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa", dengan menawarkan ’Istighfar" sebagai alatnya. Manusia adalah mahluk lemah, dia adalah tempatnya salah dan lupa. Dia memiliki nafsu dan ada juga setan yang selalu menggodanya. Nafsu dilukiskan oleh Nabi Yusuf As, sambil mengakui kelemahannya sendiri, dengan pernyataannya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali dirahmati oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Begitulah ucapan Nabi mulia Yusuf As, sebagaimana diabadikan dalam QS. Yusuf [12]: 53. Di sisi lain, setan pun telah siap menjerumuskan manusia. Dia pernah bersumpah di hadapan Allah, “Saya benar-benar akan duduk (menghadapi) mereka di jalan Engkau yang lebar lagi lurus, kemudian saya pasti akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan, Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. Tidak banyak yang dapat selamat dari godaan setan atau rayuan nafsu. Banyak yang terjerumus secara sadar atau tidak. Karena itu, kita harus beristighfar. Nabi Muhammad Saw. pun diperintahkan untuk beristighfar (QS. Muhammad [47]: 19), kendati beliau adalah manusia teragung dan dosanya yang telah dan akan dilakukan telah diampuni oleh Allah Swt. (QS. Al-Fath [48]: 2). Tidak kurang dari seratus kali sehari beliau bertaubat dan beristighfar. Jika manusia agung saja begitu halnya, maka bagaimana dengan kita? Kesalahan yang disengaja terhadap Allah dan sesama mahluk tidak sedikit yang kita lakukan, aib dan kekurangan kita pun sungguh banyak, yang terlihat atau tidak terlihat. Dari sini, memohon ampunan (istighfar) memang sangat kita butuhkan. Kata astaghfirullah (kemudian disebut istighfar) terambil dari kata ghafara yang berarti “menutup”. Dengan mengucapkan istighfar, kita memohon kiranya Allah menutupi kesalahan dan aib kita, karena Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai al-ghaffâr. Imam Ghazali menjelaskan bahwa Allah yang menyandang sifat itu adalah “Dia yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Dosa-dosa, tulisnya, adalah bagian dari sejumlah keburukan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia dan mengenyampingkan siksanya di akhirat.” Banyak hal yang ditutupi Allah dan kita mohon agar Dia menutupi kita. Allah menutupi “sisi dalam” jasmani manusia yang tidak sedap dipandang mata, yang ditutupi-Nya dengan keindahan lahiriah. Alangkah jauh perbedaan antara sisi dalam dan sisi lahir manusia dari segi kebersihan dan kekotoran, keburukan dan keindahan. Perhatikanlah apa yang nampak dan apa pula yang tertutupi. Allah juga menutupi bisikan hati serta kehendak-kehendak manusia yang buruk. Tidak seorang pun mengetahui isi hati manusia kecuali dirinya sendiri. Seandainya terungkap apa yang terlintas dalam pikiran atau terkuak apa yang terbetik dalam hati menyangkut kejahatan atau penipuan, buruk sangka, dengki, dan sebagainya, maka sungguh manusia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, begitu tulis Imam Ghazali. Penulis dapat menambahkan bahwa Allah Swt. tidak hanya menutupi apa yang dirahasiakan manusia terhadap orang lain, tetapi juga menutupi sekian banyak pengalaman masa lalunya, kesedihan atau keinginannya, yang dipendam dan ditutupi oleh Allah di bawah sadar manusia sendiri, yang kalau ditampakkan kepada orang lain atau dimunculkan ke permukaan hati yang bersangkutan sendiri, maka pasti akan mengakibatkan gangguan yang tidak kecil. Selanjutnya, yang ditutupi Allah selaku al-ghaffar adalah dosa dan pelanggaran-pelanggaran manusia yang seharusnya bisa diketahui umum. Itulah sebagian yang ditutupi Allah dan yang dimohonkan dalam ucapan istighfar ini. Dengan permohonan tulus, Allah Swt. akan menyambut hamba-hamba-Nya yang berdosa serta yang berkekurangan, betapapun banyak kekurangan dan besar dosanya. “Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Dialah al-Ghaffar ar-Rahim”. (QS. Az-Zumar [39]: 53) Sahabat Nabi, Anas Ra, berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda bahwasanya Allah berfirman: “Wahai putra (putri) Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu apa yang engkau telah lakukan di masa lampau dan Aku tidak perduli (betapapun banyaknya dosamu). Wahai putra (putri) Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya engkau datang menemuiku membawa dosa-dosa seluas hamparan bumi ini dan engkau datang menjumpaiku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan pengampunan seluas hamparan bumi itu. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, demikian juga Ahmad dengan sanad hasan). Wallahualam bissawab Sumber :Disunting oleh Imam Puji Hartono dari Buku "Perjalanan Menuju Keabadian; Kematian, Surga, dan Ayat-ayat Tahlil" karya M. Quraish Shihab, yang diterbitkan oleh Lentera Hati,

Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.






Help | Contact Us