PSIKOLOGI UNTUK MASA DEPAN ANAK-
Prof Dr Lydia Freyani Hawadi
Menurut Ibu Reni, di Republika hari ini, Pendidikan di Indonesia belum melihat siswa sbg individu yg unik, ada anak yg berbakat istimewa dan ada yg cerdas istimewa. Mereka seharusnya di"treatment" secara berbeda.
Karakteristik pembelajar yg sangat beragam dari sisi potensi minat,bakat,motivasi,gaya belajar,budaya & ekonomi, juga belum digali lebih dalam. Selama ini, pendidikan nasional baru sampai ke masalah kuantitas. Kebijakan pemerintah masih pada tahap pemerataan pendidikan SD, yang dibangun secara besar2an agar anak Indonesia memperoleh akses luas untuk belajar ke sekolah. Di saat kita bersibuk diri dengan masalah pemerataan pendidikan dan program wajib belajar sembilan tahun, dunia luar ternyata sudah jauh memikirkan ke depan bahwa perubahan apa yang akan terjadi & kompetensi apa yang dibutuhkan bagi individu untuk mampu bersaing.
Hal ini berdampak pada banyaknya pengangguran lulusan PT akibat mereka harus memenuhi taraf kualifikasi kecerdasan tertentu. Padahal bisa jadi tidak tahu minat sebenarnya sehingga tidak cocok untuk mengembangkan pekerjaan sesuai jurusannya. Oleh karena itu, sejak SMP, perlu ada seleksi kecerdasan, apakah mereka lebih baik masuk SMA atau SMK. Masalahnya meski SMK telah menyebar, tetapi belum populer di mata lulusan SMP. Dan jika ada yang masuk SMK, seolah-olah masih warga kelas dua.
Akibatnya, peringkat Indeks Pembangunan Manusia dari data yg di keluarkan UNDP 2008, menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 107, Malaysia 63, Singapore 25 dari 175 negara.
Untuk itu harus ada pembelajaran yg cepat bagi bangsa agar dapat maju. Kita harus tega mendiferensiasikan individu tertentu yg cerdas & jmlnya sedikit untuk diistimewakan. Pemerintah harus memberikan perhatian khusus kepada mereka karena tanggung jawab masa depan bangsa sebagiannya ada pada mereka.
Selain itu diperlukan juga peranan Psikologi Pendidikan di sekolah-sekolah yaitu sebagai salah satu tenaga pengajar resmi di institusi pendidikan. Selama ini peranan Psikolog pendidikan masih sebatas "tukang tes" (psikotes). Peran psikologi disini masih berada di luar lingkaran sekolah. Kompetensi lain (selain "tukang tes") yang dimiliki psikolog belum digunakan. Padahal Psikotesitu sendiri tidak sekedar mengetahui besaran skor IQ. Banyak hal yg bisa dibaca melalui hasil permeriksaan psikologis. Beliau meyakini, sekolah membutuhkan sesseorang yg dapat memahami dan menindaklanjuti hal2 yg ada dlm psikogram dan uraian lengkap tsb.
Peranan Psikolog Pendidikan akan sangat membantu dalam memberikan pengarahan bagi lulusan SMP & SMA untuk melihat berbagai alternatif dalam melanjuti proses pembelajaran mereka. Juga bagi anak-anak dengan kecerdasan istimewa.
Karena akar utama pendidikan Indonesia adalah potensi individu maka peranan Psikolog Pendidikan sebagai tenaga pengajar resmi di institusi pendidikan menjadi suatu keharusan.Ibu Reni telah berusaha merealisasikan hal tersebut melalui usulan kepada Menko Kesra & Mendiknas. Tetapi masih terdapat beberapa kendala untuk merealisasikannya, yaitu jumlah sekolah yang ribuan dibandingkan dg jml lulusan Psikologi Pendidikan itu sendiri, dan masalah besarnya gaji bagi para Psikolog tersebut dibandingkan gaji para guru.
Tapi kita para ibu, pencetak penerus bangsa ini tidak perlu berkecil hati, karena Ibu Reni sejak 2004 telah membangun Pusat Kajian Keberbakatan di Fak. Psikologi UI. Berikut Ini program2 yang tersedia pada Pusat Kajian tersebut.
Visit Campus bagi anak kelas 3 SMA yg akan lulus. Mereka dapat mendengarkan penjelasan langsung mengenai hal2 yang dipelajari pada fakultas2 yg didatangi oleh staf pengajar & mahasiswa di sana.
Kemudian Happy Science bagi anak SD yang memperkenalkan mereka dgn berbagi ilmu yg dipelajari di kampus agar mereka memiliki wawasan sejak dini. Program ini bekerjasama dgn himpunan mahasiswa. Misalnya memperkenalkan jurusan yg ada di UI seperti Antropologi, Kimia dll.
Ada lagi Creative, yaitu pengenalan multiple intelligence, agar anak2 SD mendapat pelatihan untuk mengetahui di sisi mana kecerdasan yg paling dominan dalam diri mereka. Orang tua dapat mengasahnya untuk diperkuat.
Ibu Reni juga berniat membuat Pusat Wanita yaitu tempat wanita bisa belajar apa saja mengenai peranannya sebagi ibu. Disana , beliau akan membuat kursus pranikah dan mengawasi tahap perkembangan anak. Juga ingin membuat Human Center Ibu dan Anak sebagai tempat pengembangan diri anak dalam mendapatkan pengayaan. Jika memiliki kecerdasan istimewa, anak itu harus segera diarahkan.
Hal ini dilakukan karena beliau merasa pemerintah belum optimal dalam mencerdaskan ibu. Padahal ibu adalah ujung tombak bagi keluarga dan negara. Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anaknya.
Semoga ada cara untuk segera merealisasikan ide-ide beliau. Saya hanya mampu menyebarluaskan ide ibu Reni kepada para ibu-ibu Indonesia yang memiliki satu tujuan yaitu mencetak pemimpin bangsa ini dan kepada para ayah sebagai partner ibu.
Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.