B.PERBUATAN-PERBUATAN PEMBUKA PINTU REZEKI
1.Perbuatan pertama: Meluruskan Niat
Orang melakukan usaha, mencurahkan pikiran, mengerahkan tenaga dan menghabiskan waktu untuk mencari nafkah. Kerasnya ikhtiar boleh jadi sama, lelahnya pun boleh jadi sama, tetapi tidak semua orang mempunyai niat yang sama ketika keluar rumah untuk bekerja. Ada yang niatnya mencari dunia, ada yang niatnya berbekal untuk akhirat. Orang yang hanya berniat hanya untuk keuntungan duniawi akan mendapatkan keuntungan dunia saja, orang yang niatnya untuk bekal akhirat akan mendapatkan keuntungan dunia maupun akhirat.
Niat yang merupakan perbuatan batin dan bersifat internal rupanya tidak saja menjadi penentu nilai suatu perbuatan lahiriah tetapi juga dapat menimbulkan efek nyata secara eksternal ke dunia material.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw menceritakan," Tatkala seorang laki-laki sedang berada di sebuah tanah lapang tiba-tiba ia mendengar suara dari atas awan:"Siramilah kebun si fulan!". Maka awan pun berarak lalu mencurahkan air hujan di sebuah area penuh bebatuan hitam. Air pun tertampung penuh di semacam penampungan air. Lalu laki-laki itu mengikuti kemana air itu mengalir. Ia pun melihat seseorang yang sedang berdiri di kebunnya sambil mendorong aliran air itu dengan sekopnya (ke dalam kebun). Lantas laki-laki itu bertanya kepada orang tersebut,"Wahai hamba Allah, siapakah namamu?"
Orang itu menjawab, fulan, persis seperti yang didengarnya dari awan. Orang itu balik bertanya kepada laki-laki tersebut," Wahai hamba Allah, mengapa engkau bertanya namaku?" Lali-laki itu menjawab," Aku mendengar suara dari awan yang mencurahkan air ini yang mengatakan: siramilah kebun si fulan, dan itu adalah namamu. Sebenarnya, apa yang telah engkau lakukan?" Orang itu menjawab," Jika itu yang engkau tanyakan, aku merencanakan apa yang akan dihasilkan dari kebun ini kelak sepertiganya akan aku sedekahkan, sepertiganya untuk aku dan keluargaku makan dan sepertiganya lagi untuk aku tanam kembali."
Jika kita renungkan kisah di tadi betapa niat yang baik dalam bekerja telah membuat alam semesta bergerak membantu orang tersebut. Ia membutuhkan air, maka Allah pun menggerakkan alam untuk memberinya air. Tentunya secara umum kita dapat mengatakan bahwa jika seseorang mempunyai niat yang benar ketika melakukan pekerjaan apa pun maka Allah pun akan membantunya dengan memberikan apa yang ia perlukan demi suksesnya usahanya itu. Tidak hanya itu, dua hal lagi yang akan ia dapatkan selain bantuan tadi, yaitu: mendapatkan kekayaan hati dan dunia akan datang dengan sendirinya, demikian jaminan dari Nabi saw.
Nabi saw bersabda," Barang siapa yang tekadnya hanya dunia semata maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya dan tidak akan datang dunia sedikit pun kepadanya kecuali yang telah di tetapkan Allah untuk nya. Dan barang siapa yang niatnya adalah akhirat maka Allah akan menghimpun urusannya (mendatangkan apa yang ia perlukan), menjadikan kekayaan pada hatinya dan dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya." (HR.Ibn Majah dari Zaid bin Tsabit, al-Albani berkata: Hadits sahih)
2.Perbuata kedua: Takwa Kepada Allah
Ada orang mengatakan," Zaman sekarang untuk mencari yang haram saja sudah sulit apalagi mencari yang halal." Mungkin perkataan seperti itu sudah diucapkan oleh orang di zaman terdahulu. Tentu dari segi kandungan ucapan itu tidak benar, tapi dari sisi bahwa yang haram lebih mudah diperoleh dibandingkan yang halal dalam sebagian kasus boleh jadi ada benarnya. Uang pelicin dapat mempercepat proses sudah bukan rahasia lagi. Korupsi lebih cepat membuat kaya dibandingkan gaji bulanan telah membuat orang tergiur untuk korupsi. Itu contoh kecil.
Bersabda Nabi saw," Akan datang suatu masa atas manusia di mana orang yang bersabar melaksanakan agama seperti menggenggam bara api." (HR. al-Tirmidzi dari Anas bin Malik, berkata al-Tirmidzi: hadits gharib.Al-Albani berkata: shahih)
Takwa sebagai amal yang dapat mendatangkan rezeki mengandung pesan," Jangan takut jadi orang takwa. Kalau ketakwaan kita duga menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan bisnis maka kita salah. Karena melalai ketakwaan Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita duga."
Allah swt sendiri berjanji:
"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya (dari kesulitan) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia duga." (al-Thalaq: 2-3)
"Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami bukakan bagi mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi…" (QS. Al-A’raf: 96)
Takwa, berasal dari kata wiqayah yang artinya menjaga, melindungi, kehati-hatian, kewaspadaan. Dalam istilah agama takwa berarti melaksanakan apa-apa yang Allah perintahkan dan mejauhi apa pun yang dilarang oleh Allah, lahir maupun batin.
3.Perbuatan ketiga: Tawakal
Tawakal adalah bergantung kepada Allah dalam semua keadaan karena meyakini bahwa Dia lah satu-satunya yang tepat bagi hati bersandar.
Tawakal adalah perbuatan hati sedangkan ikhtiar adalah perbuatan jasad. Tawakal merupakan kewajiban iman sedangkan ikhtiar adalah sunnah Rasulullah saw. Jadi tidak benar bahwa tawakal lawannya adalah ikhtiar. Tawakal lawannya adalah tidak tawakal dan ikhtiar lawannya adalah tidak ikhtiar.
Di antara keistimewaan tawakal:
1.Tawakal diperintahkan oleh Allah Ta’ala
" dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang beriman harus bertawakal." (QS. Al-Tawbah: 51)
2.Tawakal adalah ciri mukmin sejati
" Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (QS. Al-Anfal: 2)
3.Allah mencintai orang yang bertawakal
"…sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali-Imran: 159)
4.Dicukupi keperluannya oleh Allah swt
"…Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah mencukupi (keperluan)nya.." (QS. Al-Thalaq: 3)
Bersabda Nabi saw," Kalau kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal sejati niscaya Dia akan memberikan kalian rezeki seperti Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Burung-burung berangkat pagi dalam keadaan perut kosong akan tetepi pulang sore hati dalam keadaan perut kenyang." (HR. al-Tirmidzi, hadits hasan shahih)
5.Termasuk 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal)
Diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari dan Muslim tentang 70.000 orang dari umat Muhammad saw yang akan masuk surga tanpa hisab, kriteria mereka adalah: " Mereka adalah orang-orang yang tidak minta dijampi-jampi (ruqyah), tidak percaya pada ramalan nasib (tathayyur) dan tidak berobat dengan tusukan besi panas (kay). Hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibn ’Abbas dan ’Imran bin Hushain ra)
Komponen tawakal itu sendiri ada lima:
1.Ma’rifah (mengenal) Allah sebagai Rabb yang Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Maha Mencukupi dan Maha Pemurah.
2.Percaya kepada adanya hukum sebab akibat yang Allah ciptakan dan mengikuti hukum sebab akibat tersebut
Contoh: Allah menjadikan makanan sebagai sebab untuk kenyang, perkawinan sebagai sebab hadirnya keturunan, doa sebagai sebab meraih apa yang ia pinta, amal shalih sebagai sebab meraih keselamatan akhirat. Maka tidak benar tawakan orang yang ingin mempunyai anak tetapi tidak menempuh proses perkawinan, atau tidak benar pula tawakal orang yang ingin selamat di akhirat tetapi tidak melakukan amal shalih.
3.Meskipun jasad mengikuti hukum sebab akibat, hati tetap bersandar kepada sang Pencipta sebab, yaitu Allah semata.
Meskipun ia menempuh proses mengunyah dan menelan makanan, tetapi ia yakin Allah lah yang membuat ia kenyang. Meskipun ia telah menempuh proses perkawinan untuk mempunyai keturunan tetapi hatinya yakin Allah lah yang mengaruniakan ia keturuan. Meskipun ia menempuh proses bekerja mencari nafkah tetapi hatinya yakin Allah lah yang memberikan ia rezeki.
4.Hati merasa tenteram dengan bergantung kepada Allah Ta’ala semata
Bagian ini adalah bagian tersulit dari tawakal. Kita tahu bahwa Allah menjamin rezeki semua mahluknya tetapi perasaan cemas takut tidak kebagian rezeki sangat sulit dihilangkan dari hati kita. Karena itu perlu dibantu dengan dzikir-dzikir dan doa-doa, karena dzikir dan doa akan membuat hati menjadi tenteram dan merasakan kehadiran Allah Ta’ala.
5.Baik sangka (husnuzhan) kepada Allah swt
Kadang kala ketika kita merasa telah sepenuhnya berserah diri kepada Allah harapan kita tidak kunjung terlaksan. Perlu kita ketahui bahwa kita tidak bisa menalar ilmu Allah dengan keterbatasan ilmu kita. Kita pun tidak bisa menakar cara kerja Allah dengan cara kerja kita. Dan kita pun tidak perlu penunjukkan kepada Allah apa yang seharusnya Ia lakukan. Dia mengetahui tentang diri kita melebihi pengetahuan kita tentang diri kita sendiri, Dia mengetahui apa yang kita butuhkan melebihi pengetahuan kita tentang kebutuhan kita. Dia mengetahui kebaikan untuk kita bahkan sebelum kita dilahirkan. Dia telah mejadi Tuhan sebelum semua mahluk ini ada.
Baik sangka (husnuzhan) terjadi ketika hati meyakini tetapi akal melihat sebaliknya.Namun, ketika hati dan akal menyaksikan hal yang sama maka husnuzhan berubah menjadi sebuah keyakinan (ainul yakin), ini memerlukan tafakur dan pengalaman.
4.Perbuatan keempat: Menfokuskan hati beribadah kepada Allah swt
Yang terjadi pada kita di hari ini adalah shalat dan dzikir kita lebih banyak memikirkan berbagai urusan dan persoalan hidup dibandingkan mengingat Allah Ta’ala. Padahal Allah swt berjanji dalam sebuah hadits Qudsi:
" Wahai anak-anak Adam, fokuskanlah hatimu beribadah kepada-Ku niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan aku cukupi kebutuhanmu. Jika engakau tidak melakukannya maka Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu." (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majah, al-Tirmidzi berkata: hadits hasan gharib)
Guru-Guru kita yang mulia mengajarkan:
"Ketika jasadmu bersama mahluk maka jadikanlah hatimu bersama Allah. Ketika jasadmu sedang beribadah maka jangan engkau biarkan ada yang lain di hatimu kecuali Dia."
5.Perbuatan kelima: Menafkahkan harta di jalan Allah
".. dan apa pun yang kalian infakkan maka Dia pasti menggantinya dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi Rezeki." (QS. Saba: 39)
Allah Ta’al berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:
"Wahai anak adam berinfaklah niscaya Aku berinfak kepada-Mu." (HR.Muslim dari Abu Hurairah ra)
Kita memberikan derma kepada orang yang kekurangan sesuai kadar kedermawanan dan kekayaan kita. Jika kita termasuk orang kaya dan datang satu kali kepada kita orang yang butuh pertolongan dan kita pun mempunyai kelebihan maka dengan ikhlas kita pun memberikan bantuan kepadanya. Tetapi jika ia datang untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama maka timbul tanda tanya dalam hati kita. Jika ia datang berkali-kali dengan alasan yang sama maka dengan berat kita katakan, maaf saya tidak dapat membantu anda. Jika kita tidak cukup kaya tetapi cukup dermawan lalu datang orang yang minta pertolongan, ternyata yang ia minta jauh lebih besar yang kita miliki maka kita akan memberikan sesuai kesanggupan kita.
Kita dapat membayangkan apa yang terjadi jika Allah sang Maha Dermawan dan Maha Kaya memberikan infak kepada seseorang yang datang kepada-Nya dengan kebutuhan yang tidak ada artinya di hadapan kekayaan-Nya yang tak berhingga, tentu lah pemberian Allah akan mencukupi. Kita terganggu dengan permintaan orang yang sering meminta sedangkan Allah senang jika terus-menerus diminta.
Jika kita berinfak maka Allah pun berinfak untuk kita. Infak kita tergantung kadar kedermawanan dan kekayaan kita, infak Allah sesuai dengan kedermawanan dan kekayaan-Nya yang tiada bertepi. Beruntunglah mereka yang senang berinfak.
Dalam sebuah hadits Nabi kita saw bersabda," Tidaklah para hamba memasuki suatu pagi melainkan dua orang malaikat turun (dari langit). Seorang malaikat berdoa," Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak." Malaikat lain berdoa," Ya Allah berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra)
6.Perbuatan keenam: Silaturahmi
Silaturahmi, menurut al-Mulla ’Ali al-Qari, adalah sebuah ungkapan untuk merepresentasikan perbuatan baik kepada para kerabat dekat, baik menurut garis keturunan maupun yang karena ikatan perkawinan, berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga mereka.
Silaturahmi menjadi jalan luasnya rezeki ini ditunjukkan oleh hadits Rasulullah saw:
"Barang siapa senang rizekinya dilapangkan dan diakhirkan ajalnya maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah ra)
7.Perbuatan ketujuh: Bersyukur kepada Allah swt
"Dan (ingatlah), takala Tuhanmu mengumumkan:"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku tambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)
Ada empat pilar syukur:
1.Mengenal dan mengakui nikmat dan sang pemberi nikmat (syukur hati)
2.Memuji sang pemberi nikmat (syukut lisan)
3.Menggunakan nikmat untuk taat (syukur badan)
4.Mencintai sang pemberi nikmat
Syukur hati dengan mengenal nikmat dan sang pemberi nikmat membuat seseorang merasa betapa ia sangat bergantung kepada Allah untuk setiap desah nafas kehidupan dan betapa besar curahan nikmat yang datang kepadanya setiap detik yang berjalan.
Syukur lisan,menyanjung sang pemberi nikmat dengan mengucapkan Alhamdulillah.
Bersabda Nabi saw," Sesungguhnya Allah benar-benar ridha terhadap seorang hamba yang tiap kali makan dan minum ia memuji Allah atas makan dan minum itu." (HR. Muslim dari Anas bin Malik ra)
Syukur badan dengan cara menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah. Apa pun yang Allah swt berikan kepada kita hakikatnya adalah untuk bekal ibadah, karena tujuan penciptaan kita adalah untuk beribadah kepada-Nya.
" Dan tidak lah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah pada-Ku." (QS. Al-Dzariyat: 56)
Mencintai sang pemberi nikmat adalah puncak rasa syukur karena tabiat hati adalah tertawan oleh kebaikan. Kita bisa mencintai kedua orang tua karena merasakan dan merenungkan kebaikan keduanya. Kita dapat mencintai Rasulullah saw karena mentafakuri kebaikan-kebaikan beliau terhadap kita.
Jika kita merenungkan berbagai nikmat dan kebaikan Allah, bahkan kehadiran Rasulullah saw dan kedua orang tua adalah bagian dari nikmat Allah untuk kita, tentulah kita pun bisa mencintai Allah karena kebaikannya yang tidak terhitung dan tidak terbalaskan.
"Ikatlah nimat yang ada dengan syukur dan istighfar maka nikmat lain pun akan segera berdatangan."
Demikian tujuh perbuatan yang dapat menjadi jalan bagi luasnya rezeki, tidak hanya rezeki lahiriah tetapi juga rezeki batiniah, dunia maupun akhirat.
Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.