Hari ini kita mengerti betapa besarnya karunia yang Allah curahkan pada kita melalui kehidupan. Selalu ada nikmat baru dalam setiap hembusan nafas dan kejapan mata. Melalui mata ini kita dapat melihat keindahan alam, menghindar dari bahaya yang mengancam, meraih berbagai manfaat. Tak terhitung karunia yang kita peroleh lewat mata ini. Demikian pula melalui telinga, tangan, kaki, otak, usus, perut, paru-paru, saraf-saraf, otot dan tulang.
Pendeknya, kata-kata tidak memadai untuk dapat mengungkapkan apa yang kita ketahui tentang nikmat Allah. Sedangkan apa yang kita ketahui dari nikmat Allah hanya sebutir debu di hadapan semesta nikmat yang tak terhingga.
Kita yang hari ini berdiri dalam lautan karunia, kehadiran kita bukan tiba-tiba dan tanpa perantara. Bila kita mundur delapan puluh atau tujuh puluh tahun ke belakang, kita tidak dapat menunjuk di mana desah nafas, detak jantung, mata, telinga, tangan dan kaki kita. Bahkan nama pun kita tidak punya. Di manakah semua organ dan indera itu pertama kali terbentuk? Ternyata jantung, paru-paru, mata, telinga, tangan, kaki dan kepala itu pertama kali terbentuk di rahim seorang ibu. Kita pernah tumbuh dan berkembang dalam diri ibu-ibu kita, mengambil nutrisi terbaik dari tubuh mereka. Bahkan denyut jantung pertama sebagai tanda kita adalah manusia sempurna dengan ruh dan jasad terjadi di rahim seorang ibu. Kelahiran kita ke dunia pun meminta pengorbanan seorang ibu yang mempertaruhkan hidupnya demi lahirnya sebuah kehidupan yang baru. Tidak hanya itu, jika jasad mereka menjadi alam material (mulk) bagi jasad-jasad kita maka hati mereka pun menjadi alam spiritual (malakut) bagi jiwa-jiwa kita. Jiwa kita tumbuh oleh ribuan doa, kasih sayang dan harapan-harapan mereka.
Sehingga, kenikmatan apa pun yang kita rasakan di hari ini, apakah melalui mata, telinga, tangan, kaki, otak, lidah bahkan untuk setiap denyut kehidupan, kedua orang tua kita mempunyai saham di sana. Berapakah besar saham itu?
Seratus persen! karena kita tidak punya andil sama sekali dalam proses pembentukan awal diri-diri kita. Kedua orang tua kita mempunyai saham pada dua bola mata dan setiap warna yang kita lihat, pada dua telinga dan setiap bunyi yang kita dengar, pada setiap nafas dan udara yang kita hirup, pada setiap detak jantung, setiap langkah kaki, lintasan pikiran, guratan perasaan…..
Seandainya agama tidak memerintahkan bakti kepada kedua orang tua, melalui tafakur singkat ini saja sebenarnya sudah cukup alasan bagi kita untuk mempersembahkan bakti terbaik kepada kedua orang tua. Manusia beradab mempunyai fitrah bawaan untuk membalas keabaikan orang yang telah berbuat baik kepadanya, minimal setara dengan kebaikan yang ia terima. Kita, jangankan dapat membalas kebaikan orang tua dengan kebaikan yang setara, menghitungnya pun kita tidak bisa. Jangankan untuk menghitung, kita bahkan gagal untuk dapat mengingat meski hanya sebagian kecil dari kebaikan-kebaikan mereka.
Bakti kepada orang tua yang secara kemanusiaan sudah seharus kita lakasanakan tiba-tiba menjadi sangat sakral karena Allah Ta'ala mengangkatnya pada kedudukan yang demikian tinggi dalam hukum langit. Bahkan bakti kepada orang tua menjadi salah satu cara tercepat dan termudah untuk meraih keridhaan Allah dan surga seluas langit dan bumi.
" Dan Tuhanmu telah mewajibkan kamu supaya tidak menyembah sesuatu selain Dia dan mewajibkan kamu berbuat baik kepada kedua orang tua…"(QS.17: 23)
"...hendaklah engkau bersyukur kepada-Ku dan berterima kasih lah kepada kedua orang tuamu..."(QS.31:14)
Rasulullah saw bersabda," Ridha Tuhan terletak pada keridhaan orang tua dan murka Tuhan pun terletak pada murka orang tua." (HR. al-Tirmidzi dari Abdullah bin 'Amr, al-Albani berkata: sahih)
Di antara karunia Allah yang demikian besar dan kasih sayang-Nya yang tak bertepi adalah Allah Ta'ala menempatkan sebuah pintu surga di rumah-rumah kita. Pintu surga yang terdekat dengan kita dan termudah untuk dimasuki. Besabda Nabi saw:
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ
" Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Terserah engkau, apakah engkau sia-siakan atau engkau pergunakan kesempatan itu." (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majah. Al-Tirmidzi berkata: hadits sahih)
Dalam syarah Sunan al-Tirmidzi, Tuhfah al-ahwadzî, dijelaskan arti pintu surga yang paling tengah (awsath abwâb al-jannah) yaitu: pintu surga yang terbaik dan tertinggi. Artinya, cara yang terbaik yang dapat mengantarkan seseorang untuk masuk surga dan mengantarkan pada derajat yang sangat tinggi di surga adalah mentaati kedua orang tua dan memelihara hak-hak mereka.
Alangkah indahnya rumah-rumah yang ada kedua orang tua di dalamnya. Meskipun rumah itu sederhana tetapi sebagian surga ada di dalamnya. Ketika pintu surga itu terbuka maka semerbak harum surga memenuhi seluruh ruang dan memberkati setiap butir batu dan pasirnya. Rahmat tercurah, sakinah terlimpah dan rejeki datang dari segala arah. Setiap pintu memiliki gerandel kunci. Hati kedua orang tua kita adalah kuncinya. Dapatkah tutur kata, sikap dan perbuatan kita membuat mereka ridha. Jika keridhaan keduanya tercurah pada kita maka jangankan surga seluas langit dan bumi akan terhampar bahkan Sang Pencipta surga pun berkenan menyingkapkan tabir wajah-Nya yang Maha Suci kepada kita.
Namun, tidak semua orang memperoleh kehormatan untuk mengurus kedua orang tuanya. Ada orang yang ketika bayi sudah ditinggal mati ibu bapaknya. Ada orang yang ingin memberikan gaji pertamanya kepada ayah ibunya tetapi mereka wafat sebelum cita-cita itu tercapai. Tetapi ada juga orang yang orang tuanya ditakdirkan lanjut usia dan ada dalam perawatan anaknya itu. Orang terakhir ini sangat beruntung, pintu surga terpampang di hadapannya. Jika ia sabar, ridha dan penuh kesyukuran memelihara keduanya maka hal itu sudah cukup alasan bagi Allah untuk mengampuni dosa-dosanya, memasukkan ia ke dalam surga dan melimpahkan keridhaan atasnya.
Tetapi jika ada orang yang punya kesempatan mengurus kedua orang tuanya yang lanjut usia dan ternyata ia menyia-nyiakan kehormatan itu maka dia benar-benar tidak dapat mensyukuri kesempatan langka yang Allah berikan. Orang ini adalah orang yang paling merugi. Kata rugi saja tidak cukup untuk menggambarkan kerugian itu, sebab Nabi saw harus meminjam istilah lain yang beliau ulangi sampai tiga kali untuk mengekspresikan kerugian yang tak terperikan yaitu raghima anfu, tsumma raghima anfu tsumma raghima anfu. Secara etimologi raghima anfu artinya debu bercampur pasir memenuhi hidung seseorang. Sebuah ungkapan untuk kerugian, kehinaan dan celaka.
Beliau saw bersabda," Raghima anfu tsumma raghima anfu tsumma raghima anfu (Sungguh rugi. rugi dan rugi), orang yang masih bertemu kedua orang tuanya yang sudah tua, apakah salah satu atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga (karena bakti pada keduanya)." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Seandainya surga dapat dicapai dengan berkendaraan mobil atau bahkan pesawat terbang maka pastilah kita semua berbondong-bondong mendatangi pintu surga itu meski dengan biaya tinggi yang membuat kita terpaksa harus menggadaikan rumah kita.
Tetapi kenyataannya adalah surga yang tidak terjangkau oleh kendaraan-kendaraan kita itu malahan pintunya ada di rumah-rumah kita. Mengapa kita tidak bersegera mendatanginya?
Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.