Hari silih berganti, bulan datang dan pergi, tahun pun berubah sudah, usia kita pun kian bertambah. Setiap satu hembusan nafas, kita pasti berada dalam salah satu dari empat kemungkinan: sedang melayani dunia atau sedang melayani setan atau sedang melayani hawa nafsu atau sedang melayani Allah Ta'ala.
Melayani dunia artinya mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan perasaan untuk mendapatkan kesenangan duniawi semata tanpa peduli pada akhirat dan hari perjumpaan dengan Allah Ta'ala. Ketika hati seseorang dikuasai cinta dunia maka lahirlah darinya berbagai perilaku hina. Curang dalam usaha, kikir dalam menafkahkan, tamak untuk memiliki, sombong ketika memiliki, minder ketika tidak memiliki, khawatir kehilangan dan takut kematian. Padahal, hubungan kita dengan dunia tidak lebih dari dua kemungkinan, yaitu: kita meninggalkan dunia karena mati atau dunia yang meninggalkan kita karena musnah atau berpindah tangan.
“ kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS.Ali-‘Imran:185)
Sahl bin Sa'ad ra berkata: kami bersama Rasulullah saw di Dzuhulaifa. Tiba-tiba beliau mendapati bangkai seekor kambing yang telah menggembung. Beliau pun bersabda," Menurut kalian, rendahkah nilai bangkai ini di hadapan pemiliknya?" Demi Dia yang jiwaku di tangan-Nya, dunia ini lebih rendah nilainya di hadapan Allah dibandingkan bangkai itu di hadapan pemiliknya. Seandainya dunia ini ada nilainya satu sayap nyamuk saja di hadapan Allah maka orang kafir selamanya tidak akan diberi minum walau setetes pun juga." (HR. Ibn Majah, al-Albani berkata: shahih)
Jika hati seseorang sudah teracuni cinta dunia maka hati itu pasti mati, bagaikan panah yang menancap di jantung; dicabut sakit, dibiarkan sakit, mati sudah pasti.
Melayani setan adalah melaksanakan bisikan-bisikannya dan mengikuti langkah-langkahnya. Padahal Iblis telah berjanji di hadapan Allah,
“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS.Al-Hijr: 39)
Iblis adalah sosok motivator dan salesman paling sukses di dunia. Jam kerjanya dua puluh empat jam sehari. Pengalaman kerjanya ribuan tahun. Karyawannya milyaran jin dan manusia. Teknik motivasinya selalu di update dan tidak pernah kenal lelah menawarkan dagangannya kepada manusia. Dagangannya adalah neraka. Tingkat keberhasilannya sangat spektakuler, dari seratus orang yang setan tawarkan neraka sembilan puluh sembilan orang membelinya. Statistik ini digambarkan dalam hadits berikut ini
Dari Abu Hurairah ra, bersabda Nabi saw," Yang pertama kali dipanggil di hari kiamat nanti adalah Adam. Lalu ia melihat para keturunannya. Lantas dikatakan kepada para keturunan itu," Inilah bapak kalian Adam!" Maka Adam pun berkata," Aku sambut panggilan-Mu dan setia menerima perintah-Mu." Allah swt berfirman," Berangkatkan rombongan ke neraka dari keturunanmu!" Adam bertanya," Wahai Tuhanku, berapa jumlah yang harus aku berangkatkan?" Allah swt berfirman," Dari tiap seratus orang berangkatkan sembilan puluh sembilan orang ke neraka."
(HR.al-Bukhari dari Abu Hurairah ra. Dalam riwayat lain al-Bukhari dari Abu Sa'id al-Khudri ra disebutkan dari seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang diberangkatkan ke neraka)
Melayani setan berarti merelakan diri masuk dalam rombongan yang digiring menuju neraka.
Melayani hawa nafsu artinya mengikuti keinginannya tanpa memperhatikan hukum-hukum Allah Ta'ala. Bahkan, ada orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya dan dirinya sebagai budak hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak dibawah pengendalian akal yang disinari wahyu hanya akan menjerumuskan seseorang kepada berbagai keburukan dan penderitaan.
"Maka tidakkah engkau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"(QS. Al-Jâtsiah: 23)
Melayani Allah swt adalah dengan bertakwa kepada-Nya. Selalu merasakan kebersamaan Allah. Mengawasi waktu detik demi detik untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah yang menjadi fitrah kita manusia. Untuk itu pulalah kita diciptakan. Dunia, setan dan hawa nafsu selamanya tidak akan membawa kita kepada kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang hakiki hanya tercapai bila manusia dekat dengan Allah Ta'ala, di dunia dan akherat.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha lagi diridhai.Maka masuklah engkau ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS.Al-Fajr:27-30)
Setiap detik adalah satu langkah menuju Allah atau satu langkah menuju dunia atau satu langkah menuju hawa nafsu atau satu langkah menuju setan. Kesudahannya adalah satu langkah menuju surga atau satu langkah menuju neraka.
Klik Button 'Share To Facebook' dibawah ini, sehingga seluruh teman teman sahabat sekalian di facebook juga bisa membaca naskah naskah di SS ini, semoga menjadi jalan kebaikan buat sahabat sahabat yang lain.